Rahasia dibalik fatihah dan quran

Dibalik kemasyurannya yang hebat – karena dihebat-
hebatkan manusia – namun ternyata sehebat itu
pulalah Surat Pembukaan Al-Fatihah ini menyandang
sejumlah masalah intrinsic yang menggoyahkan iman
Muslim sebagai sebuah wahyu otentik dari Allah!
Surat yang paling diagungkan Islam ini – yang digelari
Ummul Kitab, al-Kafiyah, bahkan al-Asas — justru
tidak punya silsilah kapan dan dimana ia diturun-kan
Allah kepada Muhammad, atau diturunkan setelah
surat yang mana juga tidak diketahui dengan pasti!
Dinamai Surat Pertama tetapi bukan Surat yang
diturunkan pertama! Itu sebabnya para pakar Islam
hanya sanggup berspekulasi “sebaik-baiknya” bahwa
surat ini termasuk surat Makkiyah, tetapi mau
memahami bahwa ada pihak-pihak lain yang
mengakuinya sebagai surat Madaniyah. (lihat
pelbagai ensiklopedi Islam, atau Muqaddimah
Terjemah Quran oleh Moh. Rifai). Ibn al-Hassar
malahan telah memastikan bahwa komposisi surat-
surat Quran adalah terdiri dari 20 surat Madaniyah
dan 82 surat Makkiyah, dan menyisakan 12 surat yang
dipertentangkan makki-madani-nya (!), dan salah satu
diantara adalah surat al-Fatihah! (lihat al-Itqan I/
44-45). Dalam mushaf versi Ibn Abbas (yang sebagian
surat-suratnya tersusun secara kronologis) didapati Al-
Fatihah ditempatkan dalam urutan surat ke-6,
diantara surat 74 dan surat 111. Lebih kacau lagi
karena ada pihak lain yang meyakini surat itu
diturunkan dikedua tempat tersebut: Mekah maupun
Medinah. Sedangkan sejumlah ulama kesohor
termasuk Syeik Allamah Thabathaba’i malahan
mengatakan surat istimewa itu telah diturunkan
berulang-ulang, ya di Mekah, ya di Medinah …
Orang-orang yang bernalar agaknya akan
menafikannya dengan berkata:
“Kalau begitu, tentu kasus ini menjadikan Jibril hampir
tak ada kerjaan lain kecuali mengurusi Surat ajaib ini
bolak-balik berulang-ulang!”
Tetapi nanti dulu (!), jangan buru-buru menuduh,
karena itulah sungguh kerjanya Jibril as. yang bolak-
balik membisikkan kepada Muhammad satu unit-
wahyu disatu waktu, tetapi diwaktu yang lain Jibril
yang sama turun lagi untuk membisikkan bahwa
wahyu tsb dibatalkan dan digantikan (nasikh-
mansukh, Qs 2:106)! Dan diwaktu yang lain lagi ia
juga membisikkan (atau membiarkan Muhammad?)
agar ayat (ayat-ayat) itu dipindahkan letaknya, “tidak
usah lagi” menurut kronologi asli ketika ayat tersebut
pertama kali diturunkan!
Inilah yang menyebabkan berantakannya
penempatan urutan asli surat dan ayat diseluruh
Quran yang semestinya mengikuti urutan tertib
kronologi ketika Jibril menurunkan wahyu awalnya,
yaitu berturut-turut untuk surat Al-Alaq (96), Al-Qalam
(68), Al-Muzzammil (73), Al-Muddatstsir (74), dst.
(menurut Allamah MH. Thabathaba’i, . Mengungkapkan
Rahasia al-Quran, p 124). Namun kini urutan tersebut
telah diduduki secara tidak jelas dan tanpa alasan dari
Allah SWT, menjadi surat 1 (Al-Fatihah), surat 2 (Al-
Baqarah), dst. seperti halnya yang Muslim adopsi
sekarang ini. Adakah Muslim cukup bertanya, “kenapa
sesudah jibril menurunkan Quran awal dengan tertib
urut kronologi lalu harus mendadak mengubahnya
dengan urutan acak? Apakah kerja demikian adalah
ciri kerja Allah yang tertib seperti yang Dia klaim
tentang diriNya, “…(inilah) suatu kitab yang ayat-
ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara
terperinci” (Surat 11:1)?
Demikianlah polanya surat Al-Fatihah ditempatkan
dan diadopsi oleh manusia, atas nama Allah! Lebih
kritis lagi adalah “pengkacauan” urutan tertib ayat-
ayat Allah oleh Muhammad sendiri: “Diriwayatkan
oleh Ibn Abbas dari Utsman ibn Affan bahwa apabila
diturunkan kepada Nabi suatu wahyu, ia memanggil
sekretaris untuk menuliskannya, kemudian bersabda,
“Letakkanlah ayat ini dalam surat yang menyebutkan
begini atau begitu.” (Tirmidzi, Sunan, kitab al-tafsir, bab
surah 9).
Pertanyaan dasar Muslim yaitu, kenapa harus
dirombak ulang sesuatu yang telah terturun Murni,
langsung dan sempurna dari surga? Jadi mana wahyu
yang sempurna, yang awal menurut urut di Lauh
Mahfudzh ataukah yang sudah diacak baru sesaat
setelah diwahyukan dan dicatat diotak Muhammad
dan para penghafal ayat? Ataukah Allah lebih bodoh
dari Muhammad yang merasa perlu merombak
posisinya? Maka tidak heran kita menyaksikan
banyaknya ayat-ayat Allah yang disisipkan oleh
Muhammad dan para sahabatnya ditengah-tengah
ayat lain yang tidak “seperwahyuan” turunnya. Lihat
Muqaddimah Surat Yunus dalam Al-Quran terjemahan
Depag yang mengakui adanya sisipan diatas apa
yang sudah diturunkan secara asli, langsung dan
sempurna:
“Surat Yunus terdiri atas 109 ayat, termasuk
golongan surat-surat Makkiyyah kecuali surat ayat
40, 94, 95, yang diturunkan pada masa Nabi
Muhammad s.a.w. berada di Madinah”.
Muslim seharusnya kasihan menyaksikan betapa sia-
sianya Jibril yang kerjaannya tidak pernah tuntas
sekali pukul pertama, sehingga harus diulang-ulang!
Keabsahan Surat Pertama
Muslim awam umumnya merasa bahwa surat ini
memang sudah selayaknya ditempatkan sebagai
surat pertama sesuai dengan maknanya sebagai Surat
Pembukaan (al-Fatihah), jadi, ya seharusnya ia
merupakan surat awal Makkiyah! Ini adalah
kekeliruan menyusuli kekeliruan! Muslim lupa
bertanya, “Siapakah yang memberi nama al-Fatihah
dan siapa yang menempatkan surat tersebut?” Hanya
apabila Allah yang memberi nama dan penempatan
lewat wahyuNya, maka ia mempunyai legitimasi ilahi
sebagai Pembuka Al-Quran yang sesungguhnya, dan
bukan sempalan manusia seperti yang diperlihatkan
diatas. Tetapi dimanapun dalam Quran, Muhammad
tidak pernah diberi wahyu tentang nama judul bagi
surat-surat-Nya, melainkan hanya disebut nama
generiknya saja sebagai “sebuah surat“, atau “suatu
surat” (Qs.2:23, 9:86, 24:1 dst). Surat-surat ini dalam
sejarah awal Islam, oleh pelbagai pihak dirujuk
dengan pelbagai nama yang beragam dan
sebagiannya telah dibuang, dan baru kemudian hari
secara atsar (dampak dari sebutan-sebutan umum)
muncul pembakuan judul surat-surat yang mana
membuktikan bahwa itu semua adalah penjudulan
manusia. ..
“Merupakan suatu hal yang pasti bahwa nama-nama
yang diberikan kepada surat-surat itu bukanlah bagian
dari Quran. Tidak jelas kapan munculnya nama-nama
surat yang beragam itu…. sekitar pertengahan abad
ke-8 dapat dipastikan bahwa nama-nama surat yang
beragam itu telah memasyarakat” (Taufik A. Amal,
Rekonstruksi Sejarah al-Quran, p.211-212).
Penggugatan akan pewahyuan Surat Al-Fatihah ini
didukung oleh segudang fakta historis, antara lain
menyangkut hal-hal gamang yang menyelimuti
dirinya:
1). Surat al-Fatihah ini tidak mempunyai pijakan asal-
usul dan sebab musabab pewahyuannya; ia yang
sekalipun dianggap surat paling terhormat dan
termulia, namun muncul begitu saja tanpa silsilah!
2). Kosong-kronologi, bahkan tidak diketahui kapan ia
diturunkan dan dimana. Bahkan tak ada indikasi ia
diturunkan setelah (atau sebelum) ayat atau surat
apa. Semuanya hanyalah hasil penempatan secara
acak yang kehilangan referensi.
3). Tidak memiliki legitimasi ilahi dalam tata-letaknya
sebagai Ummul Kitab, al-Kafiyah, al-Asas dan sebagai
Surat Pertama, sebab bukan Muhammad yang
menetapkannya disana atas nama Allah! Hadis
manakah yang ada mengatakan bahwa Nabi
menetapkan urutan surat Al-Fatihah sebagai surat
Pertama? Bahkan sahabat Nabi manakah yang sudah
menuliskan atau membacakan Surat ini (sebagai
wahyu) sebelum hijrah?
4). Ternyata surat-1 ini (dan juga bersama surat 113
dan 114), tidak dimasukkan oleh Ibn Mas’ud dalam
koleksi naskahnya (As Suyuti, al-Itqan, I:220-22).
Padahal tidak ada keraguan bahwa Ibn Mas’ud adalah
salah satu otoritas terbesar dalam al-Quran, dan tanpa
tandingan untuk surat-surat Makkiyah! Ini akan kita
kupas nanti.
5). Konten wahyunya al-Fatihah adalah sebuah
musibah, karena memperlihatkan suatu rangkaian
wahyu yang dipersekutukan dengan non-wahyu!
Menurut makna dan isi teksnya, al-Fatihah jelas bukan
seruan doa dari Allah tetapi sebaliknya, seruan doa
manusia kepada sosok Allah! Dan ini sudah menafikan
dirinya sebagai kata-kata Allah yang termaktub dalam
Lauhul Mahfudz. Namun menurut formatnya yang
masuk dalam bagian Al-Quran, ia pastilah wahyu
langsung ucapan Allah sebagaimana seluruh kalimat
Quran yang adalah seruan Allah semata. Jadi
bagaimanakah Muslim dapat memahaminya?
Disini Allah tidak menyertakan kata tanda
“Qul” [Katakan (hai Muhammad)….] kedalam surat ini,
khususnya untuk ayat 5-7, yang memperlihatkan
bahwa ia hanyalah sebentuk doa dari manusia, bukan
tanda verbatim dari mulut Allah sendiri. Bukankah
penandaan kata ini sudah dibakukan secara khusus
dan sudah diserukan oleh Allah sendiri sebanyak 332
kali “Qul” diseluruh Quran? Maka mungkinkah Surat
Terkemuka al-Fatimah ini justru akan dilalaikan Allah
dari satu kata seruan “Qul”/ “Katakan”? Padahal kata-
seruan itu mutlak diperlukan demi menjaga agar
FirmanNya jangan sampai dipersekutukan kedalam
“firman manusia”.
Mushaf koleksi Ibn Mas’ud yang otoritatif
Salah satu Muslim yang paling awal adalah Ibn
Mas’ud, yang keilmuannya dalam Quran “terpaksa”
diakui oleh mainstream Islam, karena fakta-fakta
yang tidak tersembunyikan oleh mereka, mulai dari
pujian Muhammad hingga ke Jibril!
*Muhammad sendiri memujikan dia dengan menyebut
namanya pertama-tama sbb: “Belajarlah mengaji
Quran dari 4 orang: dari Ibn Mas’ud, Salim sekutu dari
Abu Hudhaifa, Ubayy b. Ka’b, dan Mu’adh b.
Jabal” (Shahih Muslim, vol.4, p.1313, Shahih Bukhari
vol.5, p.96-97).
*Khalifah Umar bin al-Khattab dalam suratnya kepada
penduduk Kufa mengkonfirmasikan keteladanan dan
ilmunya:
“Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia,
sesungguhnya aku mengutamakan
Abdullah bin Mas’ud atas diriku. Maka tuntutlah ilmu
darinya.”
*Khalayak & Muhammad. Ibn Mas’ud pada suatu
event sempat mendemo-kan pengajian lebih dari 70
surat koleksinya dihadapan Muhammad dll. Ini adalah
peragaan yang luar biasa! Baik Muhammad maupun
hadirin lainnya tidak satupun yang menyalahkan
pengajiannya ( Shahih Muslim vol.4, p.1312). Dan ini
sekaligus menjelaskan betapa Ibn Mas’ud
sesungguhnya telah mengantongi “the 70 proven
canonical surahs” (surat-surat yang terbukti shahih)
yang tidak bisa tidak harus turut dijadikan rujukan
kebenaran untuk mushaf-mushaf manapun yang
muncul kemudian, khususnya mushaf Utsman (yang
sayang tidak dilakukan oleh Utsman).
*Sumpah Ibn Mas’ud sendiri. Ya dialah orangnya
yang paling sempat dan mampu mencatat wahyu
yang terturun karena kedekatannya dan seringnya ia
berada bersama dengan Muhammad (bahkan sejak
masih kanak-kanaknya Zayd bin Tsabit). Itu sebabnya
beliau berani bersumpah: “Demi Allah, tidak ada satu
ayatpun dari Al-Quran tanpa kuketahui latar belakang
diturunkannya ayat tersebut. Tidak ada seorang-pun
yang lebih mengetahui tentang Kitabullah disbanding
aku. Meskipun begitu, aku bukanlah orang yang
terbaik diantara kalian”. (HR.Ahmad bin Hanbal).
*Jibril. Bahkan dikatakan Ibn Mas’ud ini mendapat
kehormatan selalu hadir sewaktu Muhammad meneliti
kembali Al-Our’an bersama Jibril setiap tahun (Ibn
Sa’d, Kitab Al Tabaqat Al-Kabir, jilid 2,haI.441).
Keabsahan Surat-surat Al-Quran
Jikalau Ibn Mas’ud tahu setiap latar belakang turunnya
setiap ayat, maka tak pelak lagi Muslim lainnya harus
memiliki fakta-fakta yang super-shahih agar dapat
menyalahkan ayat dan surat apa yang telah
dikumpulkannya atau apa yang ditolaknya. Dan Ibn
Mas’ud dengan tegas menolak surat-surat 1, 113, 114
sebagai wahyu! Penolakan mana bukannya dibantahi
atau dipersalahkan Utsman dengan bukti-bukti dan
persidangan, tetapi justru naskah ibn Mas’ud itulah
yang diharus-kan untuk dimusnahkan atas perintah
Utsman sebagai tindak penguasa yang sewenang-
wenang:
“Utsman mengirim kepada setiap propinsi satu
kitab yang telah mereka salin, dan memerintah-
kan agar semua naskah-naskah Al-Our’an yang
lain, apakah dalam bentuk yang terbagi-bagi, atau
yang lengkap, harus dibakar.
(Sahih al- Bukhari, Jilid 6,hal.479).
Tetapi adakah Utsman mendapatkan mandat-ilahi
untuk memusnahkan naskah-naskah dari ucapan-
ucapan Muhammad yang paling primer? Tidakkah
Nabi akan menangisi pembakaran Kalimat Allahnya?
Ibn Masud yang tegar dan polos hati itu tidak menjilat
penguasa. Ia justru membantahi perintah Utsman
yang hendak menghilangkan kebenaran sejarah
tanpa menunjukkan kesalahannya atau ketidak-
layakannya:
“Saya mendapatkan langsung dari Rasulullah 70 surat
ketika Zayd masih
remaja kanak-kanak. Apakah kini saya harus
membuang apa yang saya
peroleh langsung dari Rasulullah?” (Ibn Abi Dawud,
Kitab al-Masahif, p.15).
Dan dia pulalah yang memperingatkan tangan-tangan
yang mengotori Quran:
“Jangan menulis ke dalam Quran apa yang bukan
bagiannya!”
Pembakaran naskah-naskah Quran yang paling primer
inilah (karena dianggap sebagai tandingan mushaf
Utsman) yang menjadikan Quran tidak bisa lagi
membuktikan keotentikan dirinya, apapun alasan-
alasan lainnya! Itu sebabnya (Muslim sering tidak
awas karena digelapkan) nama Ibn Mas’ud yang
besar itu dikerdilkan dan dikritik karena para ulama
tidak mau melihat Quran Islam (yang ada sekarang
ini) dipermasalahkan lagi dengan mengungkit “fakta-
fakta Ibn Mas’ud”.
Tetapi bukankah Muslim diseluruh dunia mengungkit
dan mengutuk pembakaran Quran oleh Terry Jones di
Florida? Padahal yang paling harus dikutuk sesungguh-
nya adalah Utsman yang pertama-tama memberi
contoh fatal tentang pembakaran Quran serta
menghilangkan fakta sejarah atas nama Muhammad
dan Allah (yang tidak menjadi saksi baginya, dan
belum tentu mendukung pembakarannya)! Terry Jones
hanya menghilangkan satu copy diantara miliaran
copy kitab Quran yang tercetak, tanpa merugikan
existensi atau otentifikasi apapun dari Quran yang
ada. Dunia tidak kehilangan apa-apa dengan
terbakarnya satu copy di Florida. Tetapi Utsman telah
menghilangkan seluruh naskah-naskah asli yang
paling tua yang tiada lagi bisa diproduksi-ulang
selamanya, termasuk Mushaf ASLI Abu Bakr yang
Utsman pinjam dan pakai sendiri sebagai sumber
salinan bagi mushaf –nya! Integritas Islamik macam
apakah yang diperlihatkannya? Maka sejarah hitam
Islam terpaksa mencatat bahwa naskah paling tua
Quran (yang dipercaya identik dengan wahyu
langsung dari surga) kini telah tiada dan diganti oleh
Quran ex-mushaf utsmani yang kita pakai sekarang
ini…
DUA MITOS ISLAM YANG DINAFIKAN SEJARAH
1.Mitos adanya semacam “mushaf Muhammad”
Sebagian Muslim masih cenderung terlena dan
menerima seolah-olah Muhammad menjelang
kematiannya telah menghimpun Quran-nya secara
utuh, tersusun tertib dan teratur surat dan ayat-
ayatnya seperti yang kita kenal sekarang ini, tanpa
berubah isi maupun bentuknya! Malah ada yang
mengatakan bahwa lepasan naskah-naskah Quran
yang diperintahkan Nabi untuk dituliskan baginya,
memang disimpan oleh Muhammad dan sudah
diikatkan menjadi shuhuf. Bagus! Kalau begitu
tunjukkanlah koleksi Muhammad tersebut pernah ada
dimana dalam rentang sejarah hidupnya!
Adakah dia pernah memakainya? Atau pernah
mengamanatkan apa-apa tentang naskah koleksi
Quran yang dipunyainya itu, karena koleksi tersebut
pasti dianggap asset yang paling berharga dan pasti
akan dirujukkannya – jikalau naskah itu benar ada.
Retorika Islam terlalu sering memainkan asumsi tanpa
substansi,tetapi lalu menslogankannya secara heroik
dan bertubi-tubi agar bisa dipercaya oleh oraang yang
kurang awas. Dimanapun, tak ada Hadis dan Tradisi,
Sirat dan sejarah Islam yang menggambarkan bahwa
Muhammad atau sahabatnya pernah memegang dan
menggunakan apa yang disebut “mushaf
Muhammad”. Jikalau ada, maka bertanyalah kenapa
mushaf resmi pertama harus dihimpun dari nol oleh
Zayd bin Tsabit, yaitu seperti yang dikatakan Zayd
sendiri: “… Jadi saya mulai mencari dan
mengumpulkan Quran dari pelepah-pelepah palem,
lempeng-lempengan batu putih, dan juga dari orang-
orang yang mengetahuinya…” (Shahih Bukhari 6. 61.
510).
2.Mitos Mushaf Utsman Identik Dengan Al-Quran-
nya Allah SWT
Mitos ini berdengung hingga sekarangpun! Padahal
penjelasan sederhana diatas saja sudah menunjukkan
secara gamblang betapa politik dan tangan-tangan
kotor turut memainkan kehadiran mushaf-manusia
yang mengatas namakan allah! Perbedaan naskah
yang satu dengan lainnya bertebaran dimana-mana
dan itu diselesaikan dengan cara kekuasaan politik!
Itu sebabnya sejarah mencatat perbantahan kekal
tentang “Mushaf Allah” diantara sesama Muslim dan
Mazhab. Cukuplah ditambahkan beberapa fakta
pengakuan/ tuduhan yang sangat mendasar seperti
dibawah ini:
“Banyak (porsi) dari Quran yang diturunkan (hanya)
diketahui oleh mereka yang gugur pada Hari
Yamamah…. tetapi yang tidak diketahui (oleh mereka)
yang masih selamat; juga tidak ditulis, tidak
dikumpulkan oleh Abu Bakar, Umar atau Utsman
(pada waktu itu) akan Quran-nya, dan tidak
ditemukan oleh satu orang lainnya.”
(Ibn Abi Dawud, Kitab al-Masahif, p.23).
Perhatikan 3 istilah khusus yang dipakai disini: lam
ya’alam- “tidak diketahui”, lam yuktab- ”tidak ditulis”,
lam yuwjad- “tidak ditemukan”, yang menegaskan
betapa porsi dan ayat Quran tertentu telah terkubur
selamanya bersama dengan para qurra yang gugur
dalam perang Yamamah.
Tetapi sekalipun diketahui dengan pasti oleh Khalifah
Umar, dan diperkuat dalam Hadis dan dalam praktek
Islam, entah kenapa ayat tentang perajaman juga
tersingkirkan dari mushaf Utsman. Umar berkata, “…
kami membacanya, kami diajari, dan kami
menegakkannya. Rasul merajam, dan kamipun
merajam setelah beliau… Sungguh rajam dalam
Kitabullah adalah hukuman bagi lelaki dan perempuan
yang berzina” (Ibn Ishaq, Sirat Rasulullah, p.684). Jadi
apakah Quran kini yang tanpa ayat tentang
perajaman tersebut adalah Quran yang sejati?
Sebaliknya, setelah mushaf Utsman tersalin, Zayd
baru sadar ia kelolosan memasuki satu ayat Quran
(yaitu surat al-Ahzaab ayat 23), dan itu bisa-bisanya
dia (dengan Utsman) yang mengesahkan ayat itu
kedalam mushaf Utsman, padahal keabsahan ayat
tersebut tidak didukung oleh dua orang penyaksi
diluar Komite Pengumpul Quran! Ayat ajaib itu tidak
dijumpai pada pengumpul Quran manapun kecuali
hanya pada satu orang, yaitu Khuzaima bin Thabit Al-
Ansari! (Shaih Bukhari, vol.6.61.510). Lebih daripada itu
ayat tersebut pasti tidak terdapat dalam mushaf Abu
Bakar yang dijadikan Zayd dan Komite-nya sebagai
rujukan penyalinan sehingga ia sampai kecolongan
ayat tsb! Jadi kenapa ayat yang tidak mutawatir dan
bermasalah itu justru bisa dianggap sah, sementara
ayat perajaman dari Umar itu tidak sah?
Pihak Shiah mau tidak mau (serba salah, karena
kehilangan Mushaf Ali bin Abi Talib –bapak Shiah—
yang juga diharuskan untuk dibakar) terpaksa
menuding ketidak murnian Quran yang diturunkan
dari Mushaf-Utsmani:
“Setidaknya tercatat ada 219 ayat-ayat spesifik Quran
yang dinyatakan palsu oleh Syi’ah. Bahkan kaum
Syi’ah percaya bahwa “Al-Quran yang dibawa oleh
Jibril as. kepada Nabi Muhammad saw adalah 17.000
ayat”.
Ini hampir 3 x lebih tebal ketimbang Quran sekarang.
(re: Tinjauan Ahlus Sunnah Terhadap Faham Syi’ah
Tentang Al-Quran dan Hadits, Nabhan Husein; dan
hadis Hisyam bin Salim, diriwayatkan dari Abi Abdillah
as.)
Akhirnya yang paling menarik adalah apa yang diakui
oleh Utsman sendiri yang kini sering disembunyikan
periwayatannya karena rawannya. Taufik A.Amal
dalam bukunya Rekonstruksi Sejarah al-Quran, p.204,
menulis sbb:
“Salinan-salinan mushaf utsmani yang diedarkan di
sejumlah kota, dalam
kenyataannya, tidak sempurna secara absolut.
Kenyataan ini diakui sejumlah
otoritas Muslim yang awal. Sejumlah riwayat
melaporkan tentang ditemukannya beberapa
kekeliruan di dalam salinan-salinan mushaf tersebut.
Yang paling populer darinya adalah riwayat yang
mengungkapkan bahwa Utsman sendiri, ketika
memeriksa salah satu eksemplar yang telah selesai
ditulis, menemukan ungkapan-ungkapan keliru dan
mengatakan bahwa kekeliruan itu tidak perlu
diubah, karena orang-orang Arab – dengan lisan
mereka – bisa membetulkannya. Riwayat populer
lainnya mengemukakan bahwa Aisyah menemukan
sejumlah kekeliruan penulisan di beberapa tempat:
dalam 2:17…; dalam 4:162…; dalam 5:69…; dan dalam
20:63… serta menegaskannya sebagai kekeliruan
yang dilakukan para penulis.
Riwayat-riwayat semacam ini secara jelas memberi
kesan bahwa teks
utsmani tidak dapat diubah lagi, sekalipun terdapat
kekeliruan di dalamnya.”
Jadi adakah Muslim pernah memiliki Al-Fatihah dan
Mushaf Surgawi seperti yang didengungkannya? Atau
yang sedikitnya dishahihkan oleh Muhammad pribadi
sebagai saksi final wahyu langsung Allah? Dimana
otoritas keterjagaan dan tertib rapi dari Allah Semesta
Alam yang telah mengumandangkan janji-Nya:
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al
Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar
memeliharanya[793]. [Catatan kaki utk 793: Ayat ini
memberikan jaminan tentang kesucian dan
kemurnian Al Quran selama-lamanya].
“…(inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun
dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci”
(Surat 15:9 dan 11:1).
Tampaknya yang ada hanyalah sebuah versi
dandanan belaka, dan dijual dengan segala cara. Ya,
segala cara (!) karena semuanya sah dan halal, asal
untuk Islam!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s