Tritunggal gereja orthodox

Allah Yang Esa, FirmanNya dan RohNya.(Allah Yang Esa
Sebagai Tritunggal Maha Kudus)
Landasan Pemahaman Berdasarkan Pengakuan Iman
Nikea
Mengenai keberadaan Allah Yang Esa itu Pengakuan
Iman Nikea selanjutnya mengatakan bahwa .Allah
yang hanya satu dan diberi gelar “Sang Bapa, Yang
Mahakuasa” ini memiliki keberadaan yang sangat unik,
karena di dalam kesatuan diriNya itu Dia memiliki
“Anak Tunggal” yang bukan berasal dari luar kodrat
Allah namun “yang diperanakkan dari Sang Bapa”
bukan dengan suatu permulaan waktu tetapi “sebelum
segala zaman” yaitu dari dalam kekekalan. Berarti
dalam kekekalan itulah Allah ini dalam kodratnya
sendiri “memperanakkan Anak Tunggal” sebagai
pancaran atau pantulan diriNya sendiri yang adalah
Terang (Nur) itu. Sehingga Anak Tunggal Allah yang
berada kekal dalam kodrat Allah ini disebut “Terang
yang keluar dari Terang” . Sebagai pancaran dari Nur
yang adalah Allah, maka jelas yang terpancar atau
terpantul berwujud Nur pula. Karena hanya ada satu
Allah yang bersifat Nur, maka Allah yang Satu ini
pastilah Allah yang Sejati.
Pancaran Diri Allah yang sejati yang berasal dari kodrat
diriNya yang berwujud “Nur yang keluar dari Nur
(Allah)” ini, jelaslah memiliki sifat yang sama dengan
Allah yaitu “Allah Sejati yang keluar dari Allah sejati” .
Dengan demikian pancaran Nur Ilahi yang berkodrat
Allah sejati itu bukan mahluk, yaitu Dia “bukan
diciptakan” namun “diperanakkan” yaitu dikeluarkan
secara kodrati dari kodrat Ilahi sendiri di dalam
kekekalan, sehingga kodratNya sama dengan asal-
usulNya: Allah yang Esa. Berarti Nur yang keluar dari
Nur ini berada dalam “Satu dzat hakekat dengan Sang
Bapa” karena Allah itu memang hanya satu yang “Dzat
hakekatNya” satu pula..
Mengikuti rincian makna Pengakuan Iman ini kita
melihat sekarang bahwa yang disebut “Anak Allah” ini
bukan makna kata jasmaniah. Sebab meskipun ada
kata-kata “diperanakkan” dan “Anak Tunggal”, tetapi
kita tak menjumpai kata “Ibu” atau yang “wanita
pengandung Anak Allah”. Tak pula kita jumpai kata
kapan saat Anak Allah itu dilahirkan. Dia diperanakkan
di luar waktu, “sebelum segala zaman” , berarti Dia
diperanakkan terus menerus di dalam dzat-hakekat
Allah yang satu itu. Karena arti “memperanakkan” disini
adalah mengeluarkan, atau juga memantulkan, berarti
Allah selalu memantulkan Cahaya DiriNya dalam
DiriNya sejak kekal, dan itulah makna diperanakkan itu.
Siapakah yang disebut Anak Allah yang berasal dari
dalam Diri Allah Yang Esa ini? Dijelaskan oleh
Pengakuan Iman itu “Yang MelaluiNya segala sesuatu
diciptakan” Dan kita tahu menurut Alkitab bahwa Allah
menciptakan segala sesuatu melalui “FirmanNya” atau
“SabdaNya” .
Jika demikian jelas yang dimaksud Anak Tunggal disini
bukanlah makhluk atau ciptaan yang diadakan oleh
Allah, namun Ia adalah Firman Allah yang kekal, yang
melaluiNya Allah mengadakan sekalian makhluk atau
segenap ciptaan. Itulah sebabnya Ia satu dzat-hakekat
dengan Allah, dan memiliki sifat Ilahi, dan keluarNya
dari Allah sendiri, karena Ia berada satu di dalam Allah
Yang Esa itu sendiri. Karena Allah yang Esa itu disapa
dengan gelar kias sebagai “Bapa”, maka “Firman Allah”
yang berasal dari kandungan dzat Allah dan yang
keluar dari Allah Yang Esa itu disebut dengan gelar kias
“Anak”. Karena Allah itu Esa,, maka FirmanNya juga
hanya ada satu saja. Padahal Firman Allah ini diberi
gelar kias sebagai “Anak”, maka jelas Firman yang
hanya satu itu, disebut dengan gelar kias “Anak
Tunggal Allah”, karena Allah memang tak beranak
maupun diperanakkan dalam pengertian jasmani yang
kita kenal. Firman Allah yang kekal itu disebut “Anak
Yang Tunggal” (“Firman itu….sebagai Anak Tunggal
Bapa…”, Yohanes 1:14), serta “Anak Tunggal Allah/Bapa”
yaitu Firman Yang Kekal itu dinyatakan sebagai yang
“ada di pangkuan Sang Bapa” (Yohanes 1:18 ), dan
”pangkuan Bapa” adalah “Dzat-Hakekat Bapa/Allah”.
Dengan demikian Firman Allah yang dikiaskan sebagai
“Anak Tunggal Allah” itu memang berada dalam “Dzat
Hakekat Allah” yang Esa itu. Sedangkan mengenai Roh
Allah yang kekal dikatakan:: “…Roh …menyelidiki…hal-
hal yang tersembunyi dalam diri Allah…..yang tahu, apa
yang terdapat dalam diri manusia, …roh manusia sendiri
yang ada di dalam dia……..yang tahu, apa yang terdapat
dalam diri Allah…Roh Allah” ( I Korintus 2:10-11).
Roh Allah berada dalam Diri Allah, sebagaimana roh
manusia ada dalam diri manusia. Firman Allah ada di
“pangkuan Bapa” yaitu dalam hakekat Bapa yang satu.
Dengan demikian dalam dzat-hakekat Allah yang Esa
itu berdiamlah FirmanNya yang kekal dan RohNya yang
kekal. Sehingga hanya Allah Yang Esa (Bapa) itu sendiri,
beserta Firman serta RohNya yang ada di dalam Diri
dan Dzat-HakekatNya Yang Esa itu saja yang mengerti
dzat-hakekat dari pada Allah tersebut.
Jadi disamping FirmanNya sendiri itu, Allah yang Esa ini
juga memiliki Roh Kudus, yaitu Roh yang “Keluar dari
Sang Bapa” , yang berarti Roh ini asalnya juga dari
Sang Bapa (Allah Yang Esa) itu dan berdiam di dalam
Diri Allah Yang Esa itu. Dengan demikian Allah yang Esa
itu merupakan pokok dan sumber yang dariNya Anak
Tunggal Allah (”Firman Allah yang hanya satu-satunya”)
diperanakkan sejak kekal (“Diperanakkan dari Sang
Bapa”) dan dariNya pula Roh Kudus itu dikeluarkan dari
kekal (“Keluar dari Sang Bapa”). Melalui Anak Tunggal
(“FirmanNya yang hanya Satu”) ini Allah menciptakan
(Allah..Pencipta… ) segala sesuatu (“yang melaluiNya
segala sesuatu diciptakan”). Padahal dalam Kitab Suci
yang menjadi sarana penciptaan dalam diri Allah
adalah “Firman Allah” berarti yang dimaksud dengan
Anak Allah itu, sebagaimana yang telah kita katakan
diatas, tak lain adalah “Firman Allah” sendiri.
Itulah sebabnya Ia satu dalam dzat-hakekat Allah.
Tetapi dalam memberikan hidup dan kehidupan kepada
segala sesuatu yang telah diciptakan melalui
“Firman”Nya yaitu “Anak Tunggal” Nya itu Allah
menggunakan RohNya yang disebut Roh Kudus (“Roh
Kudus…Sang Pemberi Hidup….”). Demikianlah maka Roh
Kudus sebagaimana Anak Allah yang melaluiNya Allah
menciptakan segala sesuatu itu, menjadi
“Tuhan” (Penguasa) bagi segenap mahluk. Maka
jelaslah Allah itu memang satu, sehingga Roh Kudus itu
“bersama dengan Sang Bapa” artinya dari dalam
hakekat Allahlah Roh Allah berasal, “dan Sang Putra”
karena Anak Allah yang adalah “Firman Allah”
beradanya dalam dzat hakekat Allah yang Esa bersama
dengan Roh Allah sendiri, “disembah dan dimuliakan” .
Demikianlah penyembahan ummat Kristen kepada
Allah Yang Esa itu penyembahan yang bersifat hidup
dan intim, karena Dia menyembah Allah melalui Firman
Allah yang mengantar manusia kepada Allah, dan
melalui Roh Allah yang memberikan terang dan hidup
untuk menyatu dengan Allah yang Esa itu. Dan fakta
keberadaan Allah yang Esa yang demikian inilah yang
dalam theologia Orthodox disebut sebagai “Tritunggal
Mahakudus”.
Hal-hal yang keliru dalam Pemahaman Tritunggal Maha
Kudus
Istilah “Tritunggal Maha Kudus” untuk menyebut Allah
yang Esa yang sejak kekal memiliki Firman dan Roh
dalam diri dan dzatNya yang serba esa ini sering
dimengerti secara salah oleh orang diluar Iman
Orthodox. Kata ini memang tak terdapat dalam Kitab
Suci dan pertama kali digunakan oleh Theophilus dari
Antiokhia di Gereja Timur dalam bahasa Yunani
“Triados” dan Tertulianus dari Gereja Barat dengan
istilah bahasa Latin “Trinitas” dalam usaha untuk
menjelaskan tentang fakta yang terdapat dalam Kitab
Suci mengenai Allah Yang Esa yang disebut Bapa, yang
memiliki Firman yang disebut Putra/Anak dan Roh yang
disebut Roh Kudus yang bersifat Kekal, dan hubungan
Firman Allah dan Roh Allah itu dengan Allah Yang Esa
itu sendiri.
Jadi yang dimaksud dengan Tritunggal bukanlah
mengenai ajaran bahwa ada Tiga Ilah yang terpisah-
pisah yang disebut Allah Bapa, Allah Anak dan Allah
Roh Kudus seperti yang kita jumpai dalam ajaran
Mormon. Bukan pula terdiri dari Isa, Maryam dan Allah,
sebagai tiga tuhan bersatu. Malah bukan pula sebagai
Isa dan Jibril ( karena istilah Kristen “Roh Kudus” itu
disamakan dengan ajaran dalam Islam dimana nama
lain dari malaikat Jibril adalah “Rohul Qudus”) yang
dipersekutukan dengan Allah, seperti yang kita jumpai
dalam tulisan-tulisan polemik beberapa penulis Muslim
dalam serangannya terhadap faham Tritunggal ini.
Bukan pula Tritunggal ini tiga Nama yang berbeda dari
satu Tuhan Yesus Kristus. dimana “Bapa” disamakan
dengan gelar :”Tuhan”, dan “Anak” disamakan dengan
gelar “Yesus” serta “Roh Kudus” disamakan dengan
gelar “Kristus”, namun wujudnya adalah satu yaitu
“Tuhan Yesus Krisus” yang dilahirkan Maryam itu.
Jadi menurut faham ini Allah yang Esa itulah Tuhan
Yesus Kristus. Faham ini banyak kita jumpai dalam
beberapa kelompok denominasi Protestan non-klasik di
Inondonesia ini. Memang faham ini sangat
bertentangan dengan data Kitab Suci yang telah kita
bahas diatas. Tak pula Tritunggal itu berarti hanya tiga
fungsi dari Allah yang Esa, semisal orang satu yang
dapat berfungsi sebagai bapak, anak dan suami
tergantung pada situasinya. Sebagaimana yang
difahami oleh beberapa kelompok tertentu dalam
denominasi Protestan klasik. Dan bukan pula Tritunggal
itu sebagai suatu “keluarga ilahi” yang terdiri dari Bapa,
Ibu (“Roh Allah” sering dianggap bersifat feminin oleh
kelompok tertentu) dan AnakNya. Tidak pula ini suatu
keluarga ilahi yang terdiri dari Bapak dan Anak yang
diikat oleh kasih yang disebut Roh Kudus. Sebagaimana
yang difahami oleh kelompok Protestan sempalan
tertentu.
Dan Tritunggal itu bukan juga semacam gambaran
psykhologis dalam Allah Bapa itu kehendak, Anak itu
kata-kata atau akal-budinya serta Roh Kudus itu adalah
semacam emosi ilahi yang bernama kasih, seperti yang
diajarkan oleh Santo Agustinus dari Gereja Barat. Dan
bukan pula Tritunggal itu adalah proses dan tahap yang
dilalui Allah dalam sejarah: dalam Perjanjian Lama
Allah yang Esa itu disebut Bapa, dalam Perjanjian Baru
Allah yang tadinya disebut Bapa itu sekarang disebut
Anak, dan dalam Gereja Allah Yang Esa yang tadinya
disebut Bapa dan Anak itu sekarang disebut Roh Kudus,
seperti yang diajarkan oleh aliran dispensasionalis
tertentu dari kelompok Protestan sayap kiri. Dan ajaran
Tritunggal Mahakudus ini berbeda sama sekali dengan
faham “Trimurti” dalam Agama Hindhu. Karena Brahma,
Wisnu dan Shiwa dalam agama Hindhu adalah dewa
yang terpisah-tepisah yang memiliki keluarga masing-
masing lengkap dengan anak-anak dan isteri-isteri
mereka masing-masing. Meskipun jika masing-masing
dianggap sebagai manifestasi-manifestasi dari
“Brahman” (Sang Hyang Widhi) yang satu. Karena
masing-masing manifestasi itu berdiri sendiri-sendiri
dengan karya-karya yang saling tak terkait satu sama
lain.
Tidak pula Tritunggal Mahakudus itu dapat disamakan
dengan ajaran Kebatinan “Pangestu” tentang “Tri
Purusa”, dimana dimengerti bahwa Tuhan yang satu itu
berada dalam tiga “faset” : Sang Suksma Kawekas
yang diparalelkan dengan Sang Bapa, Suksma Sejati
yang disamakan sebagai Sang Putra dan Roh Suci yang
adalah inti terdalam dari roh manusia sendiri (kelihatan
faham “pantheisme” disini, suatu faham yang ditolak
Gereja Orthodox: Roh Suci dalam Gereja Orthodox
adalah Roh yang ada di dalam Diri Allah, dan bukan inti
terdalam dari roh manusia ). Dimana Suksma Kawekas
digambarkan sebagai Omnipotensi (jadi bukan pribadi
atau hypostasis seperti yang diajarkan oleh Iman
kristen Orthodox) atau Samudera keilahian yang diam
tak bergerak, sedangkan Suksma Sejati digambarkan
sebagai samudera keilahian yangt mulai bergerak, dan
Roh Suci adalah uap samudera yang keluar akibat
gerak samudera keilahian tadi (inilah faham “emanasi”
yang juga ditolak Gereja Orthodox).
Berarti terdapat dua kali pemunculan baru di dalam
Allah, yaitu munculnya gerakan samudera keilahian :
Sang Suksma Sejati, serta munculnya uap air samudera
keilahian: “Roh Suci” dari “gerak samudera keilahian”:
Suksma Sejati (sesuatu yang baru muncul bukanlah
sesuatu yang kekal, dalam Allah tak ada yang baru
semuanya “qodim” dan “azali” menurut Iman Kristen
Orthodox).. Semuanya itu tidak ada sangkut pautnya
dengan ajaran Tritunggal Maha Kudus dalam Iman
Kristen Orthodox. Namun yang disebut Tritunggal dalam
ajaran Iman Kristen Orthodox sebagaimana yang jelas
diajarkan Kitab Suci adalah penjelasan akan
keberadaan yang ada di dalam diri Allah yang Esa yang
sejak kekal memiliki “Firman” dan “Roh” yang berada
satu di dalam Dzat-Hakekat Allah yang Esa itu.
Tritunggal Maha Kudus adalah Allah Yang Esa itu
Dengan panjang lebar diatas telah kita bahas bahwa
Iman Kristen Orthodox adalah suatu Iman yang
menekankan Tauhid (Ke-Esa-an Allah) sebagaimana
yang nyata dalam ayat-ayat Alkitab berikut ini, yang
juga telah kita kutip diatas: ”Dengarlah, hai orang Israel:
TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu Esa! ( Ulangan 6:4),
Akulah yang terdahulu ( berarti: tak ada Ilah lebih tua
dari Allah Yang Esa ini, berarti Allah tak berorang-tua,
atau tak diperanakkan) dan Akulah yang terkemudian
( berarti: tak ada Ilah baru yang lebih muda atau lebih
kemudian dari Allah yang Esa ini, atau Allah itu tak
beranak melalui kelahiran dari seorang isteri); tidak ada
Allah selain daripadaKu ( berarti: Allah tak memiliki
tandingan atau sekutu” ( Yesaya 44:6), “ Akulah TUHAN
dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada
Allah” ( Yesaya 45:6). ”Jawab Yesus: Hukum yang
terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah
kita, Tuhan itu esa” ( Markus 12:28).
Dan Allah Yang Esa itu diidentikkan dengan “Bapa” :
”Demikianlah kata Yesus……:Bapa….Engkau, satu-
satunya Allah yang benar…” (Yohanes 17:1-3), “ Namun
bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu:Bapa…” ( I
Kor.8:6). Dan kebenaran ayat-ayat Kitab Suci ini
diringkas dalam Pengakuan Iman Gereja Orthodox
( Pengakuan Iman Nikea): ”Aku percaya pada Satu
Allah, Sang Bapa, Yang Mahakuasa…” Allah yang Esa
yang disebut Bapa ini – bukan karena jenis kelamin,
tetapi sebagai kata kias karena Dia adalah asal-usul
dari segala sesuatu, pemelihara segala sesuatu,
pemberi segala sesuatu, dan pembimbing segala
sesuatu – adalah pencipta segala sesuatu. Dia
menciptakan segala sesuatu itu melalui
“FirmanNya” ( Kejadian 1, Mazmur 33:6, Yohanes 1:1-3),
dan memberi hidup kepada segala sesuatu melalui
“RohNya” ( Ayub 33:4), FirmanNya Allah itu selalu
“bersama-sama” dengan Allah, artinya berada di dalam
kodrat dan Hakikat Allah sendiri ( Yohanes 1:1-3),
sedangkan Roh Allah itu “keluar dari Bapa “ ( Yohanes
15:26), berarti asalnya ada di dalam Bapa yaitu Allah
yang Esa itu ( I Kor.2:10-11).
“Firman Allah” yang melaluiNya Allah menjadikan alam
semesta ini juga disebut “Anak” ( Yohanes 1:3, Ibrani
1:2) karena FirmanNya Allah, yaitu IlmuNya Allah atau
Akal-Budi Allah itu pasti “dikandung “ dalam Dzat
Hakekat Allah sendiri sehingga jika Firman itu
dinyatakan atau diucapkan keluar dari Allah maka
“seolah-olah” dilahirkan atau diperanakkan, dan dalam
pengalaman manusia apa yang dilahirkan itu pastilah
disebut sebagai “Anak”, jadi “Firman Allah” adalah
“Anak” yang diperanakkan dari dalam Pikiran Allah tadi,
itulah sebabnya Firman Allah disebut Anak Allah,
meskipun Allah itu secara biologis tak beranak maupun
diperanakkan..Ini disebabkan, karena Allah sebagai
asal-usul dan tempat beradanya Firman itu disebut
Bapa. Karena Allah itu Esa maka FirmanNya juga cuma
satu, dan Firman Allah itu disebut “Anak”, maka “Firman
Allah” yang cuma satu, atau “Anak yang satu-satuNya”
ini jelas disebut “Anak Tunggal”, itulah sebabnya
“Firman Allah” disebut “Anak Tuggal Allah” dalam Kitab
Suci (Yohanes 1:18, 3:16).
Sedangkan Roh Allah (yaitu prinsip kehidupan dan
kuasa Allah) yang ada di dalam hakekat Allah yang
satu bersama “Firman” itu disebut Roh Kudus .Dengan
demikian dalam Iman Kristen Orthodox Roh Kudus
bukanlah nama Malaikat Jibril, namun Roh Allah sendiri.
Malaikat Jibril adalah ciptaan dari Roh Kudus ini juga,
sebab Malaikat Jibril itu diberi hidup oleh Allah melalui
RohNya ini juga sebagaimana makhluk-makhluk
lainnya. Karena Allah itu Esa, yaitu Bapa tadi, maka
haruslah memang FirmanNya (Anak) itu berasal dari
dan berdiam di dalam Allah yang Esa yaitu Bapa ini,
demikian pula RohNyapun harus keluar dari dan
berdiam dalam Bapa yang Esa ini, dengan demikian
Keesaan Allah terjaga. Karena memang Allah itu Satu,
Esa, tiada tandingan atau sekutu bagiNya. Jadi
Tritunggal Maha Kudus adalah Allah yang Esa (Sang
Bapa) yang memiliki dalam dzat-hakekatNya yang Esa
Firman yang kekal ( Anak) dan Roh yang kekal ( Roh
Kudus) yang berada dan melekat satu di dalam DiriNya
yang Esa itu.
Jadi istilah “Tritunggal Mahakudus” itu bukan berbicara
mengenai jumlah Allah, namun mengenai keberadaan
di dalam diri Allah yang Esa tiada berbilang dan satu
tiada bandingan itu. Iman Kristen Orthodox tidak
percaya adanya Allah yang lebih dari satu karena Allah
itu Esa menurut Alkitab. Jadi Tritunggal bukanlah “Tiga”
Ilah seperti yang dikatakan dalam An-Nissa 171:’Hai ahlil
Kitab! Janganlah kamu melampaui batas dalam
agamamu….dan janganlah kamu katakan:Tuhan itu tiga!
….” .
Tritunggal bukanlah “Tiga Tuhan yang terpisah-pisah”
atau “Tiga Tuhan yang digabungkan” atau “Tiga Tuhan
yang dipersatukan” , namun itu adalah sebutan bagi
Allah Yang Esa itu sendiri yang dalam dzatNya memiliki
Kalimat dan Ruh yang kekal tanpa awal maupun akhir.
Bukan pula Allah dalam pemahaman Tritunggal itu
sebagai “yang ketiga daripada yang tiga” seperti yang
dikatakan dalam Al-Maidah 72 karena Allah itu hanya
satu-satunya dan yang pertama dalam DiriNya yang
Esa yang memiliki Kalimat dan Ruh kekal itu. Serta
lebih bukan lagi jika Allah itu adalah “Isa dan ibunya”
sebagai tuhan-tuhan/ilah-ilah “disamping Allah” seperti
yang dikatakan dalam Al-Maidah 116, sebab Tritunggal
itu bukan terdiri dari unsur-unsur makhluk, karena Allah
itu tak terdiri dari unsur-unsur, namun Dzat azali dari
Allah sendiri yang memiliki Kalimat dan Roh yang kekal
itu.
Maryam tak pernah disebut sebagai IsteriNya Allah,
sebagai tandingan atau pasangan dari Allah Bapa. Jika
sampai ada pemikiran yang demikian jelaslah itu
pemikiran yang amat sesat, dusta dan terkutuk.
Maryam adalah “hamba Allah” (Lukas 1:38), sama
seperti “Isa”pun adalah “Hamba Allah” dalam
penjelmaanNya sebagai manusia ( Filipi 2: 5-7).
Makna Hypostasis
Bagi Iman Kristen Orthodox Allah itu Esa karena Bapa
itu Esa, sebagaimana dinyatakan oleh Kitab Suci : ” …
bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu :Bapa…” ( I
Kor. 8:6), dan yang juga diteguhkan oleh Pengakuan
Iman Gereja : ”..Satu Allah, Sang Bapa…”. Sehingga
Sang Bapa itu pokok dan sumber di dalam diri Allah
yang Esa.. Karena Bapa itu adalah Allah yang hidup
maka Bapa itu bukan sekedar suatu keberadaan ilahi
tak berpribadi, namun Ia adalah Allah yang berpribadi,
atau berhypostasis. Sedangkan “Firman” atau
“Kalimatullah” di dalam Alkitab ditegaskan bahwa
Firman Allah itu bukan hanya sekedar serangkaian
bunyi dan suara yang memiliki makna dalam wujud
kata dan kalimat, sebagaimana “firman/kata-kata”
yang dimiliki manusia. Allah tidak sama dengan
manusia,oleh karena itu FirmanNyapun tak sama
dengan kata-kata manusia. Sementara kata-kata
manusia adalah sesuatu yang tercipta dan benda mati
namun Firman Allah itu disebut sebagai “Firman yang
Hidup” (I Yohanes 1:1), karena memang “Dalam Dia/
Firman itu ada hidup” ( Yohanes 1:4), sebab “…Anak/
Firman mempunyai hidup dalam diriNya sendiri
(Yohanes 5:26). Itulah sebabnya Ia dapat menjadi
sarana Theophania (“tajjali, penampakan Ilahi”) dan
akhirnya dapat menjelma manusia yang hidup. Karena
Firman itu hidup maka Ia mempunyai kesadaran, dan
karena mempunyai kesadaran Ia dapat dikasihi Allah
( Yohanes 17:24).
Keberadaan Firman Allah yang semacam inilah yang
dikatakan bahwa Firman itu memiliki
“hypostasis” (“realitas kongkrit”). Demikian juga Roh
Allah meskipun itu adalah prinsip hidup dan kuasa di
dalam diri Allah sendiri, namun karena Roh Allah ini
mempunyai ciri sebagai “Roh yang memberi
hidup” (Roma 8:1), sebagaimana juga yang ditegaskan
oleh Pengakuan Iman Gereja Orthodox, bahwa “Roh
Kudus” itu adalah “Sang Pemberi Hidup”, maka ini
berarti bahwa “Roh Allah”pun memiliki hidup itu sama
seperti yang dimiliki Firman. Karena Roh itu sama
seperti Firman Allah berada di dalam Diri Allah Yang
Esa, dan Roh itu sama-sama memiliki Hidup seperti
Firman, maka pastilah Hidup yang ada dalam Roh itu
adalah Hidup yang sama, yaitu HidupNya Bapa seperti
yang ada di dalam Firman juga. Jadi jelas dalam Allah
itu hanya ada “Satu Hidup” saja yang Bapa itulah
sumberNya hidup tadi. Ini makin menegaskan EsaNya
Allah itu. Demikianlah sebagaimana Firman yang hidup
itu memiliki “hypostasis” (“realitas kongkrit”) karena
memiliki hidup, maka Rohpun untuk alasan yang sama
juga memiliki “hypostasis” (“realitas kongkrit”).
Sehingga di dalam diri Allah Yang Esa itu terdapat tiga
hypostasis. Tiga hypostasis ini sama sekali tidak bisa
dipisahkan karena melekat satu dalam diri Bapa, dan
dalam dzat-hakekat Allah yang Esa, namun ciri-ciriNya
dapat dibedakan.
Ciri-Ciri Khas Hypostasis
Ciri-ciri khas yang membedakan dari ketiga hypostasis
(realitas kongkrit) di dalam diri Allah yang Satu itu
adalah demikian: Hypostasis Bapa sebagai wujud dari
Allah Yang Esa mempunyai ciri khas dari kekal-azali
sampai kekal-abadi tak berpermulaaan serta tak
berpenghabisan. Ciri khas yang lain dari Wujud Allah
atau hypostasis “Bapa” adalah tidak diperanakkan oleh
siapapun, namun ada dengan sendirinya. Namun
karena dalam diri Bapa ini terdapat “FirmanNya”, maka
dari kekal-azali sampai kekal-abadi “hypostasis Bapa”
atau “Wujud Allah” itu selalu mewahyukan
“FirmanNya” di dalam DiriNya Yang Esa itu, dan proses
“pewahyuan Firman Allah” (“tajjali Allah dalam sifat
“Firman”Nya) di dalam hakekat Allah yang Esa inilah
yang disebut bahwa “Bapa memperanakkan hypostasis
Putra” Ini bermakna bahwa tidak ada waktunya
dimana Bapa ini tidak mengenal diriNya melalui
“pewahyuan FirmanNya” dalam diriNya yang Esa, atau
dengan kata lain tak ada waktunya “Bapa tidak
memperanakkan Sang Putra”. Tanpa awal dan tanpa
akhir Allah Yang Esa selalu mengenal diriNya di dalam
FirmanNya (Matius 11:27) atau “Sang Bapa ini selalu
memperanakkan hypostasis Putra” didalam dzaat-
hakekatNya yang Esa.Selanjutnya ciri khas dari
“hypostasis Bapa” atau “Wujud Allah” itu adalah
memiliki RohNya sendiri atau “Roh Kudus” yang sejak
kekal-azali sampai kekal-abadi berada satu dan
melekat dalam dzat-hakekat Allah yang satu itu ( I Kor.
2:11), serta keluar dari Allah ini (Yohanes
15:26).KeluarNya Roh Kudus dari Allah di dalam dzat-
hakekatNya Yang Esa berlangsung dari kekal-azali
sampai kekal-abadi, tanpa awal dan tanpa akhir.
Dengan demikian ciri khas hypostasis Bapa adalah Ia
adalah prinsip ke-Esa-an di dalam Diri Allah, Ia adalah
Pokok dan Sumber dari FirmanNya dan RohNya, karena
Firman Allah dan Roh Allah itu berada satu di dalam
dzat-hakekat Allah yang satu, dan dariNya Firman Allah
“diperanakkan” serta dariNya Roh Allah “keluar”.
Sedangkan ciri khas dari hypostasis Anak atau Firman
Allah/Kalimatullah adalah Ia bersemayam dalam Allah
Yang Esa sebagai Kalimatullah yang kekal. Namun
melalui Firman ini juga keberadaan Allah yang
tersembunyi itu dinyatakan., karena Allah mengenal
diriNya atau ber”tajjali” di dalam FirmanNya ini.
Sehingga Firman Allah ini dinyatakan sebagai “cahaya
kemuliaan Allah dan gambar Wujud Allah” ( Ibrani 1:3),
karena sebagai yang dinyatakan atau diperanakkan
Bapa Ia jelas memiliki keberadaan sebagai “Gambar
Allah” itu sendiri (Kolose 1:15). “Diwahyukan”atau
sebagai “tajjali” Allah itulah ciri khas dari hypostasis
Firman Allah itu. Inilah yang disebut dengan bahasa
theologis sebagai yang “diperanakkan dari Sang Bapa”
sebelum segala zaman itu. Jadi Ciri khas dari Firman
Allah atau hypostasis Sang Putra itu adalah
“diperanakkan dari Sang Bapa” ini. Karena Ia bukan
Wujud Allah namun Firman Allah maka Ia tidak
menjadi sumber keluarNya Roh Kudus, hanya Bapa
atau hypostasis Wujud Allah saja yang menjadi sumber
keluarNya Roh Kudus. Firman Allah ada sejak kekal
karena Sang Bapa ada sejak kekal.
Sedangkan ciri khas daripada Roh Kudus sebagai
hypostasis dari prinsip hidup dan kuasa di dalam Allah
Yang Esa itu, adalah bahwa Ia bersemayam di dalam
Diri Allah ( I Kor. 2:10-11). Karena Roh Allah juga disebut
“nafas Allah” ( Mazmur 33: 6), maka sebagai nafas
Allah jelas Ia keluar dari Allah. Itulah sebabnya ciri khas
Roh Kudus adalah bahwa Ia “keluar dari Bapa”, sesuai
dengan pernyataan Alkitab “…Roh Kebenaran yang
keluar dari Bapa…” ( Yohanes 15:26), sebagaimana yang
juga ditegaskan dalam Pengakuan Iman Gereja
Orthodox : ”…Roh Kudus….yang keluar dari Sang Bapa….”
“KeluarNya” Roh Kudus dari Bapa ini tidak disebut
“diperanakkan” sebagaimana keluarNya Firman Allah
dari Bapa. Karena “Firman Allah” keluar dari Allah
sebagai sarana “tajjali” Allah sehingga Allah mengenal
diriNya melalui FirmanNya ini, karena itulah Firman
Allah disebut “Gambar Allah”, dan sekaligus Anak Allah,
karena seorang anak adalah gambaran dari bapanya,
dengan demikian keluarNya ini disebut sebagai
“diperanakkan”. Sedangkan Roh Kudus keluar dari Allah
bukan menjadi sarana “tajjali” atau sarana penyataan
diri Allah, namun sebagai lingkup yang didalamNya
“tajjali” Allah dalam FirmanNya itu dapat difahami,
dimengerti, serta terlaksana. Jadi seolah-olah Roh Kudus
adalah sebagai “tempat” yang memungkinkan
terjadinya tajjali atau penyataan diri Allah di dalam
FirmanNya kepada DiriNya sendiri itu.
Demikianlah ciri-ciri khusus dari masing-masing
hypostasis dalam diri Allah Yang Esa, dan masing-
masing ciri khas itu tidak dipunyai oleh hypostasis yang
lain, dan tak boleh dikacaukan. Hypostasis Bapa itu tak
diperanakkan juga tak memperanakkan secara biologis.
Namun hypostasis Bapa itu “mewahyukan FirmanNya”
dalam dan kepada diriNya dalam arti ini Bapa
dikatakan “memperanakkan Sang Putra, dan karena
Bapa itu memiliki nafasNya atau prinsip hidupNya,
maka sebagai nafas atau prinsip hidup itulah Bapa
dikatakan sebagai sumber “keluarNya Roh Kudus”.
Sedangkan hypostasis Putra atau Firman Allah itu berciri
diperanakkan yaitu diwahyukan atau sebagai sarana
“tajjali” oleh Bapa. Dan hypostasis Roh Allah, atau Sang
Roh Kudus itu bercirikan “keluar dari Sang Bapa”.
Keadaan Allah yang demikian ini kekal adanya.
.
===
.
Sebenarnya Icon 3 gambaran Tuhan yang duduk
bersama, adalah pengisahan Abraham yang bertemu
dengan TUHAN dalam kitab Kejadian
Kejadian 18 : 1 – 2
Kemudian TUHAN menampakkan diri kepada Abraham
dekat pohon tarbantin di Mamre, sedang ia dudu…k di
pintu kemahnya waktu hari panas terik.
Ketika ia mengangkat mukanya, ia melihat TIGA
ORANG berdiri di depannya. Sesudah dilihatnya mereka,
ia berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka,
lalu sujudlah ia sampai ke tanah,
Gereja Orthodox Percaya bahwa TRITUNGGAL MAHA
KUDUS pernah menyatakan diri-Nya pada Bapa
Abraham.
Jadi Icon 3 gambaran Allah yang duduk bersama itu
adalah icon yang ALKITABIAH. karena memang TUHAN
pernah menampakkan diri dalam rupa TIGA ORANG…
.
===
.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s