Orang2 samaria dan musa ataukah muhammad yg telah tersandung blunder?

Quran memuat banyak kesalahan. Salah
satunya adalah yang berikut ini.
Dalam Alkitab (Keluaran 32) ada kisah
mengenai (lihat: about) orang-orang Israel
yang menyembah patung anak lembu emas
ketika Musa sedang berada di atas Gunung
Sinai untuk menerima Sepuluh Perintah Tuhan.
Sekembalinya Musa dari sana ia sangat marah,
dan memerintahkan agar “kamu masing-
masing mengikatkan pedangnya pada
pinggangnya dan berjalanlah kian ke mari
melalui perkemahan itu dari pintu gerbang ke
pintu gerbang, dan biarlah masing-masing
membunuh saudaranya dan temannya dan
tetangganya” (Keluaran 32:27). Dalam kisah ini,
penjahatnya adalah orang-orang Israel dan
Harun saudara Musa yang membiarkan dirinya
dipengaruhi orang Israel. Insiden ini diceritakan
juga dalam Al-Quran (namun membawa
masalah).
Allah berfirman: “Maka sesungguhnya Kami
telah menguji kaummu sesudah kamu
tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh
Samiri (Samaria)… Kemudian Musa kembali…,
tetapi kami disuruh membawa beban-beban
dari perhiasan kaum itu, maka kami telah
melemparkannya, dan demikian pula Samiri
melemparkannya kemudian Samiri
mengeluarkan untuk mereka (dari lobang itu)
anak lembu yang bertubuh dan bersuara,
maka mereka berkata: “Inilah Tuhanmu dan
Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa.” … Berkata
Musa: “Apakah yang mendorongmu (berbuat
demikian) hai Samiri?” …– Quran 20:85-88, 95.
Menurut versi Quran, penjahatnya adalah
orang-orang Samaria yang menyesatkan orang
Yahudi sehingga mereka menyembah patung
anak lembu emas tersebut. Tetapi menurut
kisah aslinya dalam Alkitab, orang Samaria
sama sekali tidak ada. Jika hal ini ditanyakan,
orang Muslim akan mengklaim bahwa Alkitab
telah dipalsukan. Namun demikian, pada
jaman Musa, Samaria belum eksis dan tidak
ada seorangpun yang disebut orang Samaria!
Berdasarkan 1 Raja-raja 16:24 Samaria adalah
sebuah bukit milik Shemer yang dibeli oleh
Raja Omri dimana kemudian ia mendirikan
kota Samaria pada sekitar 870 SM. Orang-
orang Samaria adalah satu suku bangsa
tersendiri yang baru muncul setelah
pembuangan Kerajaan Utara Israel dan
pendudukan kembali wilayah di bawah
pemerintahan Raja Sargon II setelah 722 SM.
Musa hidup pada sekitar 1400 SM. Tepatnya,
lima hingga tujuh abad sebelum ada orang
yang disebut sebagai orang Samaria (Sameri).
Oleh karena itu, penjelasan Quran bahwa
orang Samaria menyebabkan orang Yahudi
menyembah patung anak lembu emas adalah
kesalahan yang konyol. Pada jaman Musa,
Samaria belum ada dan tidak seorangpun
dapat disebut sebagai penduduk kota yang
belum ada.
Kita tahu bahwa Muhammad bukanlah orang
yang berpendidikan. Ia mendengar kisah-kisah
Alkitab melalui penuturan orang-orang yang
suka mendongeng, dan jika melihat
kesalahannya itu maka kita dapat
mengatakan bahwa Muhammad sendiri pun
belum pernah membaca Alkitab. Jadi darimana
ia mendapat gagasan bahwa orang Samaria
menyesatkan orang Israel kepada
penyembahan berhala?
Jawaban untuk kekacauan ini dapat
ditemukan dalam kisah lainnya yang mirip
mengenai penyembahan kepada anak lembu
yang diceritakan dalam 1 Raja-raja 12:26-33.
Episode ini terjadi dalam masa Yerobeam.
Pada masa inilah orang Yahudi terpecah
menjadi dua kerajaan, Kerajaan Utara yaitu
Israel dan Kerajaan Selatan yaitu Yehuda,
dengan Yerusalem sebagai pusat peribadatan
bagi semua orang Yahudi di tanah Yehuda.
Kota-kota suci menarik para peziarah,
menghidupkan perdagangan dan
menghasilkan pemasukan. Yerobeam yang
adalah raja Israel berpendapat, tidak adanya
sebuah tempat suci untuk beribadah dalam
kerajaannya akan memperlemah posisinya. Ia
memutuskan untuk membangun sebuah
tempat ibadah di Samaria, ibukota Kerajaan
Utara, dan menghiasnya dengan dua patung
anak lembu emas untuk menyaingi Yerusalem
sebagai pusat peribadatan.
Para sarjana Alkitab, seperti Richard Elliot
Friedman, meyakini bahwa kisah pertama kali
mengenai penyembahan anak lembu emas
oleh orang Yahudi pada jaman Musa yang
dijadikan acuan oleh Quran, sebenarnya tidak
pernah terjadi. Friedman percaya bahwa kisah
ini dikarang oleh para penyalin Alkitab, para
imam besar dan para pengurus Bait Suci di
Yerusalem, sekitar tahun 700 SM untuk
mendiskreditkan Yerobeam dan tempat
ibadahnya di Kerajaan Utara. Mereka
menciptakan kisah Musa dan anak lembu
emas, mengklaim bahwa hal itu
mendatangkan murka dan penghukuman
Tuhan pada jaman Musa. Ini tentunya
mengirimkan pesan yang kuat kepada orang
Yahudi bahwa tempat ibadah yang dibangun
oleh Yerobeam tidak diterima oleh Tuhan.
Kemungkinan besar, anak-anak lembu yang
menghiasi tempat ibadah Israel hanyalah
bersifat simbolis dan tidak dimaksudkan untuk
disembah. Namun kisah karangan mengenai
orang Yahudi yang menyembah anak lembu
emas pada jaman Musa yang membangkitkan
murka Tuhan, telah mencapai tujuannya.
Adanya tempat ibadah yang baru di Utara
tidak hanya menyepelekan pentingnya
Yerusalem sebagai satu-satunya pusat religius
bagi semua orang Yahudi, tetapi juga telah
mengakibatkan terjadinya pemisahan religius
bagi suatu bangsa yang telah terpecah secara
politik.
Hosea menggemakan ketidaksetujuannya
terhadap tempat ibadah di Utara dengan
kalimat-kalimat berikut:
Anak lembumu telah menolakmu, hai Samaria!
Murka-Ku menyala terhadap mereka! Sampai
kapan mereka tidak mampu hidup tanpa
salah? Sebab alasannya pun dari Israel: para
seniman telah membuatnya. Tetapi itu bukan
Elohim! Maka anak lembu Samaria itu akan
menjadi pecahan berkeping-keping. — Hosea
8:5-6
Ini adalah sebuah peringatan terhadap orang
Yahudi pada tahun 700 SM yang hidup di
Samaria. Ayat ini tidak berkaitan dengan kisah
Musa dan anak lembu emas. Nampaknya
Muhammad telah mendengar kedua kisah ini.
Tetapi ia mencampuradukkan keduanya dan
menempatkan orang Samaria ke dalam
konteks (dan waktu) yang salah. Quran
melanjutkan:
“Berkata Musa: “Pergilah kamu, maka
sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di
dunia ini (hanya dapat) mengatakan:
“Janganlah menyentuh (aku)”. Dan
sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat)
yang kamu sekali-kali tidak dapat
menghindarinya, dan lihatlah tuhanmu itu yang
kamu tetap menyembahnya. Sesungguhnya
kami akan membakarnya, kemudian kami
sungguh-sungguh akan menghamburkannya
ke dalam laut (berupa abu yang
berserakan)” (Qur’an 20:97)
Menarik bila memperhatikan bahwa dalam
ayat ini Quran mengacu kepada fakta bahwa
orang Samaria dipandang sebagai kaum yang
tidak boleh disentuh (janganlah menyentuh
aku). Kenyataannya, orang Israel justru
memandang rendah orang Samaria dan
menganggap mereka “tidak boleh
disentuh” (Najis) oleh karena mereka
menyembah berhala. Namun demikian, stigma
ini tidak diberikan oleh Musa kepada mereka.
Mereka disebut demikian oleh orang Yahudi
berabad-abad kemudian.
Ini adalah sebuah bukti lainnya bahwa
pengetahuan Muhammad mengenai Alkitab
adalah pengetahuan dari “kelas dua” dan
berdasarkan apa kata orang. Seandainya ia
membaca Alkitab, ia tidak akan melakukan
kesalahan konyol seperti ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s