Mengungkap rahasia quran

BUKTI HISTORIS QURAN
Sebelum 750 AD (sekitar 100 tahun setelah wafatnya
Muhamad) tidak ada satupun dokumen yang dapat
memberikan gambaran tentang perioda pembentukan
Islam. Tidak ada sedikitpun keterangan/kesaksian dari
masyarakat Islam selama 150 tahun pertama mereka,
antara masa penjajahan Arab pertama pada permulaan
abad ke 7, sampai timbulnya literatur pertama Islam
abad ke 8 (Riwayah SIRA-MAGHAZI).
Satu2nya hal yang kita miliki sebelum tahun 750 itu
terdiri dari ‘hampir seluruhnya pernyataan yang tidak
jelas asalnya’ (’almost entirely of rather dubious citations
in later compilations” (Humphreys)). Memang luar biasa
bahwa Islam tidak dapat menunjukkan satupun bukti
sejarah buku suci mereka bahkan dalam waktu 100
tahun setelah kelahiran nabi mereka.
Sejumlah cerita dalam Quran berasal dari abad ke 2
literatur Yahudi:
cerita2 Cain & ABel dalam dalam Surah 5.31-32
dipinjam dari Targum Jonathan ben Uzziah dan
Mishnah Sanhedrin 4.5;
cerita Abraham, berhala dan penghancuran mereka
dalam Sura 21.51-71 adalah dari Misdrash Rabbah;
cerita Solomon dalam Sura 27.17-44, tentang burung
yang dapat berbicara dan ratu Sheba yang
mengangkat gaunnya karena menyangka lantai
mengkilap sebagai air, diambil dari Targum kedua
cerita Esther.
Bahkan cerita Gunung Sinai diangkat dan mengambang
diatas kepala rakyat Yahudi sebagai ancaman kalau
menolak hukum Yahwe (Surah 7.171) berasal dari The
Abodah Sarah. Dan seterusnya dst.
Dalam Surah 17.1 terdapat laporang tentang perjalanan
Muhamad dari mesjid suci ke mesjid terjauh. Dalam
tradisi berikutnya, ayat ini menunjuk kepada Muhammad
menaiki langit ke 7, setelah sebuah perjalanan malam
ajaib (MI’RAJ) dari Mekah ke Yerusalem, diatas kuda
bersayap bernama Buraq. Ini berasal dari berbagai
sumber : Testamen Ibraham (~200), Rahasia Enoch
(chap.1.4-10 and 2.1), dan buku Persia tua berjudul Arta-I
Viraj Namak.
Quran menunjukkan bahwa Muhammad memutuskan
hubungan degnan orang2 Yahudi pada tahun 624 dan
memindahkan arah Kiblat (Surah 2.144 and 149-150) dari
Yerusalem ke Mekah. Namun, dokumen yang ada dalam
kepemilikan kami, yaitu Doctrina Iacobi Chronicler (dari
tahun 661) dan dokumen Usup Sebeos (dari tahun 660)
menunjukkan hubungan baik antara kaum Yahudi
dengan kaum Ismaeli yang dahulu dikenal sebagai kaum
Saracen. Sumber berikut dari Armenia bahkan menyebut
gubernur Yerusalem adalah orang Yahudi pada tahap
akhir masa penjajahan/conquest. Jadi, testimoni2 ini
bertentangan dengan kesaksian dalam Quran.
M E K A H
Dalam Surah 3.96 dan 6.92 terdapat sebutan Mekah
(Bakkah) yang merupakan tempat perlindungan pertama
umat manusia, atau the “Mother of all settlement”
karena Adam menempatkan batu hitam dalam Ka’bah
pertama, namun dalam Sura 2.125-127 disebutkan bahwa
Abraham dan Ishmael yang membangunnya kembali
beberapa tahun kemudian.
Riset oleh Patricia Crone dan Michael Cook menunjukkan
bahwa Mekah tidak disebut2 dalam dokumen arkeologi
sebelum permulaan abad ke 8. Ingatlah bahwa ini
merupakan 1 abad setelah wafatnya Muhamad.
Bahkan lebih aneh lagi adalah pernyataan kaum Muslim
bahwa selain merupakan kota tua dan besar, Mekah
juga pusat dagang Arab di abad ke7 dan sebelumnya.
Pernyataan ini lebih mudah diperiksa kebenarannya
karena bukti2 dokumen dari jaman itu cukup banyak.
Dari riset ekstensif Bulliet bisa dikatakan dengan pasti
bahwa pernyataan kaum Muslim ini SALAH. Ini
dibuktikan lebih lanjut oleh Groom dan Muller yang
mengatakan bahwa Mekah tidak mungkin berada pada
rute perdagangan karena secara geografis ini berarti
orang harus mengadakan detour ketimbang melewati
rute normal, yaitu melalui jalur barat. (It would have
entailed a detour from the natural route along the
western ridge.)
Bahkan Patricia Crone menambahkan “ Mekah adalah
tempat gersang/kering dan tempat2 macam itu bukan
pilihan pedagang. Mengapa karavan harus turun kedalam
lembah gersang Mekah kalau mereka dengan mudah
dapat berhenti di Ta’if ?”
Ia juga menanyakan, komoditi macam apa di wilayah
Arab saat itu bisa ditransportasi melewati jarak jauh dan
alam kering, dan tetap bisa dijual dengan mendapatkan
keuntungan yang cukup besar untuk mendukung
pertumbuhan sebuah kota yang kedudukannya tidak
strategis itu.”
Faktanya adalah, pada abad2 tidak lama menjelang
kelahiran Muhamad di tanah Arab ini tidak ada satupun
jalur pedagangan internasional, apalagi di Mekah.
Ternyata kebanyakan data mengenai asal pernyataan
“Mekah sarang dagang” ini adalah gara2 riset tidak teliti
seorang Yesuit, Henry Lammens, seorang “akademik
yang tidak reliable”.
Lammens menggunakan sumber2 abad pertama (seperti
orang2 Romawi, Periplus dan Pliny) dan bukannya
sumber2 sejarawan Yunani yang hidup lebih dekat pada
masa tersebut seperti Cosmas, Procopius dan
Theodoratos (P. Crone).
Kenyataannya, di abad pertama, jalur perdagangan
Yunani antara India dan negara2 Mediterania
sepenuhnya bersifat maritim. Silahkan anda membuka
atlas untuk mengerti mengapa. Tidak ada gunanya
mengangkut barang dagangan melewati jalan darat
yang cukup jauh jika jarak itu bisa ditempuh dalam
separuh waktu lewat sungai/laut.
Menurut Nn. Croone, pada masa kaisar Dioclesias, lebih
murah bagi kerajaan Romawi untuk mengangkut
gandum lewat laut sepanjang 780 km (1,250 miles)
ketimbang mengangkutnya lewat jalan darat sepanjang
30 km (50 miles). Mengapa para pedagang dari India
mengirim lewat laut barang dagangan mereka,
menurunkannya di pelabuhan Aden dan meneruskan
perjalanan di pundak onta sepanjang 780km lewat
gurun gersang ?
Jika Lammens melakukan riset secara benar, ia juga
akan melihat bahwa jalur perdagangan Yunani-Romawi
dengan India runtuh pada abad 3 AD (sesudah Masehi),
sehingga pada jaman Muhammad tidak ada jalur darat
maupun pasar Romawi yang menjadi tujuan barang
dagang tersebut. Croone juga menunjukkan bahwa,
seandainya Lammens meluangkan waktu untuk
membaca sumber2 Yunani kuno, ia akan menemukan
bahwa orang2 Yunani—tujuan barang dagangan tsb—
belum pernah mendengar nama kota Mekah. Kalau
memang tempat itu begitu penting, tentunya mereka
yang akan menerima barang dagangan tersebut pasti
mengetahui eksistensinya. Namun, kita TIDAK
MENEMUKAN SEDIKIT KETERANGAN PUN, kecuali bahwa
orang Yunani menyebut kota2 Ta’if dan Yathrib
(kemudian dinamakan Medina), juga Khaybar di bagian
utara. Tidak adanya sebutan Mekah dalam dokumen
historis memang merupakan fakta problematik dalam
membuktikan keberadaan sebuah kota yang dianggap
pusat kelahiran Islam.
Bahkan terdapat kebingungan dalam tradisi Islam tentng
dimana sebenarnya letak Mekah. Menutut riset J. van
Ess, baik pada masa perang sipil pertama dan kedua,
ada kesaksian tentang orang2 yang bergerak dari
Medina ke Iraq, lewat Mekah. Namun kota MEKAH itu
terletak di bagian south-west Medina sementara Iraq
berada di belahan north-east. Maka kota perlindungan
Islam, menurut tradisi tersebut terletak di bagian timur
Medinah, yaitu arah berlawanan dari letak Mekah
sekarang! Ini mengakibatkan kebingungan. Bukan hanya
bukti2 dokumenter Arab dan Yahudi tentang
penanggalan saling kontradiksi, namun kota pusat Islam
itu dikenal hanya jauh kemudian.
BUKTI ARKEOLOGIS ARAH KIBLAT
Dikatakan bahwa arah kiblat ditetapkan pada Mekah
pada sekitar tahun 624. Namun bukti2 arkeologis yang
masih berlangsung pada mesjid2 pertama yang dibangun
pada abad ke7 oleh arkeolog2 Creswell dan Fehervari
mengenai 2 mesjid Umayyad di Iraq dan didekat
Baghdad, menujukkan bahwa Kiblat tidak diarahkan
pada Mekah tetapi jauh ke utara. Mesjid Wasit malah
melewati Mekah sebanyak 33 derajat dan mesjid
Baghdad sebanyak 30 derajat. Ini sesuai dengan
kesaksian Balahhuri (yang disebut Futuh) bahwa Kiblat
mesjid pertama di Kufa, Iraq, yang dibangun tahun 670
mengarah ke barat, padahal kalau mau mengarah ke
Mekah, seharusnya mengarah ke selatan.
Mesjid Amr b. al As diluar Kairo di Mesir menunjukkan
bahwa arah Kiblat menunjuk jauh ke utara sampai harus
diperbaiki oleh gubernur Qurra b. Sharik. Bukti2 diatas
menunjukkan bahwa Kiblat tidak diunjukkan pada
Mekah tetapi pada sebuah kota jauh di utara,
kemungkinan didekat Yerusalem. Ini diperkuat oleh
penulis Kristen dan pelancong Yakub dari Edessa, yang
tulisannya berasal dari tahun 705 dan merupakan saksi
mata di Mesir. Ia menulis bahwa kaum Mahgraye (nama
Yunani bagi kaum Saracen) di Mesir bersolat menghadap
ke timur dan TIDAK ke selatan atau tenggara
(menghadap Mekah). Suratnya (yang disimpan di British
Museum) memang merupakan pembuka mata. Oleh
karena itu bisa disimpulkan bahwa sampai tahun 705
pun, arah kiblat ke Mekah BELUM JUGA DITETAPKAN.
Menurut Dr. Hawting, dari SOAS (School of Oriental and
African Studies di London), penemuan arkeologis baru
juga menunjukkan bahwa sampai saat itu, kaum Muslim
(atau disebut juga kaum Hagar, dari nama ibu Ishmael,
yang dihamili nabi Ibrahim) memang solat tidak
mengarah ke Mekah tetapi ke utara, kemungkinan besar
Yerusalem. NAMUN QURAN MENGATAKAN KEPADA KITA
(dalam Surah 2) BAHWA ARAH KIBLAT ADALAH MENUJU
MEKAH, kira2 2 tahun setelah Hijrah, atau sekitar 624
dan tidak pernah berubah sampai sekarang.
Apa yang terjadi disini ? Mengapa Kiblat tidak mengarah
kepada Mekah sebelum tahun 705 ? Mari sekarang kita
melihat Yerusalem.
THE DOME OF THE ROCK
Dome megah ini didirikan oleh Abd al-Malik pada tahun
691 dan sampai sekarang masih berdiri. Pertama, kita
harus mengingat bahwa the Dome of the Rock bukan
sebuah mesjid karena tidak memiliki arah kiblat. Hanya
sebuah gedung oktagonal dengan 8 pilar.
Muslimin puas dengan keterangan bahwa Dome ini
didirikan guna memperingati malam Muhamad terbang
ke surga guna berbicara dengan Musa dan Allah tentang
jumlah sholat yang harus dipatuhi pengikut. Namun,
menurut riset oleh Van Berchem dan Yehuda Nevo,
kaligrafi disana tidak menyebutkan apa2 tentang Mi’raj
NAMUN MENOLAK STATUS KETUHANAN YESUS,
PENERIMAAN PARA NABI, PENERIMAAN WAHYU OLEH
MUHAMAD DAN PENGGUNAAN ISTILAH “Islam” DAN
“Muslim”.
Mengapa, kalau memang khusus didirikan untuk
memperingati Mi’raj Nabi gedung itu tidak menyebut
sepatah katapun tentangnya ??? Gedung megah ini yang
didirikan pada masa2 kelahiran Islam menunjukkan
bahwa GEDUNG INILAH DAN BUKAN MEKAH yang
merupakan tempat perlindungan Islam pertama dan
pusat kelahiran Islam sampai paling tidak abad ke7.
Menurut tradisi Islam, kalif Sulaiman, yang berkuasa
antara tahun 715-717, pergi ke Mekah dan bertanya
tentang naik haji. Ia tidak puas dengan jawaban yang
diterimanya disana dam memilih untuk mengikuti Abd al-
Malik (i.e. melancong ke the Dome of the Rock). Fakta ini
saja, kata Dr. Hawting, menunjukkan bahwa bahkan
pada abad ke 8 sudah adanya ketidakpastian tentang
letak tempat lahirnya Islam. Menurut tradisi, WALID I,
kalif yang berkuasa antara 705-715 menulis kepada
semua daerah, memerintahkan penghancuran dan
peluasan mesjid2. Mungkinkah ini saat Kiblat ditetapkan
kearah Mekah ? Kalau iya, ini menunjukkan kontradiksi
besar2an dengan Quran.
Dr. John Wansbrough, otoritas terbesar dalam tradisi dini
Islam, menunjukkan pengamatan menarik terhadap
Muhamad. Sumber2 non-muslim terbaik masa ini
diberikan oleh kaligrafi Arab pada batu2an yagn tersebar
di gurun dan daratan Syria-Yordan, khususnya di gurun
Negev. Alm. Yehuda Nevo, dari Universitas Yerusalem,
melakukan riset ekstensif dan menerbitkan hasilnya
pada tahun 1994 dalam bukunya “Toward a Prehistory of
Islam/Menuju Masa pra-sejarah Islam”, yang saya
jadikan bahan acuan disini.
Nevo menemukan dalam teks2 religius Arab, dari satu
setengah abad kekuasaan Arab (abad ke 7 dan ke
adanya sebuah kepercayaan monotheis yang “jelas2
bukan Islam, namun sebuah kepercayaan dari mana
Islam bisa berkembang” (“demonstrably not Islam, but a
creed from which Islam could have developed”.) Ia juga
menemukan bahwa dalam semua institusi religius
selama masa SUFYANI (th 661-684) tidak ada sedikitpun
sebutan tentang Muhammad atau petunjuk bahwa
Muhamad adalah nabi Allah. Ini benar, sampai sekitara
tahun 691, dimana tujuan utama inskripsi adalah religious
atau hanya commemorative, seperti inskripsi pada
bendungan didekat Ta’if, yang didirikan oleh Kalif
Muâwiya pada tahun 660-an. Absennya nama Muhamad
pada inskripsi2 kuno adalah penting.
Kemunculan pertama nama Muhamad rasul Allah
ditemukan pada coin Arab-Sassanian dari Xalib ben
Abdallah dari tahun 690, yang dibuat di Damaskus.
Pernyataan Kepercayaan, termasuk Tauhid (KeTunggalan
Allah), pernyataan bahwa Muhammad rasulAllah dan
penolakan keTuhanan Jesus (rasul Allah wa-abduhu)
ditemukan dalam inskripsi Abd al-Malik dalam the Dome
of the Rock, tertanggal 691. SEBELUMNYA, PERNYATAAN
KEPERCAYAAN MUSLIM TIDAK DAPAT DIPASTIKAN.
Setelah dinasti MAARWANID (sampai 750), nama
Muhammad biasanya timbul dalam pernyataan religius,
seperti pada coin, milestones and papyrus “protocols”.
Namun, papirus bahasa Arab pertama di Mesir, dalam
bentuk bukti penerimaan pajak tahun 642, ditulis dalam
bahasa Yunani dan Arab dan menganut judul
“BASMALA”, namun karakternya bukan Kristen maupun
Muslim.
Inskripsi2 dalam the Dome of the Rock, walaupun
mengandung teks religius, tidak pernah menyebut nama
nabi atau kepercayaan Muslim, 30 tahun setelah
kematian Muhammad, walaupun menganut suatu bentuk
monotheisme yang berkembang dari gaya literatur
Yahudi-Kristen. Lebih2 lagi, ketika kepercayaan itu
diperkenalkan pada masa MARWANID (setelah 684) it is
carried almost “overnight”. Tiba2, kepercayaan itu
menjadi satu2nya deklarasi religius negara. Namun lagi2
tidak begitu saja diterima rakyat.
Menurut Y. Nevo, rumusan Mohammedan ini hanya
dimulai digunakan dalam inskripsi umum pada jaman
Kalif Hisham (724-743). NAMUN WALAUPUN MEREKA
PEGIKUT MUHAMAD, MEREKA BUKAN MUSLIM. Untuk itu,
kata Nevo, kita harus menunggu sampai permulaan abad
ke 9 (sekitar 822), bersamaan dengan ditemukannya
Quran tertulis pertama. Jelaslah bahwa bukan semasa
hidupnya Muhamad diangkat kepada posisi nabi,
BAHKAN KETIKA ITU, KEPERCAYAAN KEPADA MUHAMAD
TIDAK SAMA DENGAN APA YANG DITEMUKAN
SEKARANG.
Q U R A N
Sumber2 menunjukkan bahwa buku ini disusun secara
tergesa2. Wansbrough mengatakan bahwa “nampak
jelas bahwa buku ini tidak memiliki struktur keseluruhan,
sering tidak jelas, baik dari segi bahasa maupun isi,
menghubung2i materi yang terpisah2 dan cenderung
mengulang-ulang anak- kalimat dalam berbagai versi.
Atas dasar ini dapat disimpulkan bahwa buku ini adalah
produksi editing tidak sempurna di masa kemudian dari
bermacam2 tradisi” seperti dikutip dalam buku Crone-
Cook “Hagarism”.
Mengenai kapan Quran itu disusun kami hanya bisa
menerka dari penanggalan manuskrip2 yang ada. Dari
sini, kami bisa menyimpulkan bahwa Quran tidak eksis
sebelum akhir abad ke 7. Referensi tertua dari luar tradisi
literatur Islam mengenai sebuah buku yang dinamakan
dengan “Quran” timbul pada pertengahan abad 8 dari
tulisan pembicaraan antara seorang Arab dan seorang
pendeta dari Bet Hale. Namun ini belum tentu menunjuk
pada buku yang kita kenal sekarang. Baik Crone maupun
Cook menyimpulkan bahwa selain referensi kecil ini,
tidak ada indikasi apapun bahwa Quran eksis sebelum
akhir abad ke 7.
Dalam riset mereka, baik Crone dan Cook bersikeras
bahwa kemungkinan besar, Quran (atau dalam bentuk
permulaan) disusun sebagai bukunya Muhamad pada
masa gubernur HAJJAJ BEN YUSUF (663-714), sekitar
tahun 705. Dari kesaksian Leo by Levond, gubernur
Hajjaj nampak telah mengumpulkan semua tulisan2
lama kaum Hagarene dan menggantikannya dengan
versi yang disusun “menurut keinginannya, dan
membagikannya kepada siapaun di negerinya”. Ini juga
sesuai dengan fakta bahwa baik manuskrip Quran di
Samarqand dan Topkapi (di Turki), Quran tertua yang kita
miliki, ditulis dalam bahasa Kufic, dialek Persia dari Kufa,
dan bukan bahasa Arab.
Kesimpulan masuk akal adalah bahwa dalam masa inilah
Quran memulai perkembangannya, kemungkinan ditulis,
sampai akhirnya disahkan pada pertengahan sampai
akhir abad 8 sebagai Quran yang kita kenal sekarang.
Namun demikian, bukti2 arkeologis tentang keberadaan
Quran adalah yang paling problematik. Bekas2 bangunan
dan inskripsi dari daerah itu dari abad 7 dan 8 tidak
hanya menunjukan kontradiksi bahwa Muhamad
mengesahkan Kiblat semasa hidupnya, atau bahwa ia
yang menyusun Quran yang kita kenal sekarang, bahkan
asal usul ke-nabiannya juga diragukan. Ini merupakan
penemuan penting dan problematik.
Sekarang kita menemukan coin2 yang katanya
mengandung tulisan Quran, tertanggal 685, yang dibuat
pada masa Abdul Malik. Lebih2 lagi, the Dome of the
Rock yang dibangunnya pada tahun 691 menunjukkan
ketidaksesuaian antara inskripsinya dengan pernyataan
dalam Quran. Dua ahli etymologi, Van Berchem and
Grohmann, setelah riset ekstensif terhadap inskripsi ini
mengatakan bahwa mereka mengandung “variant
verbal forms, extensive deviances, as well as omissions
from the text which we have today” (“Arabic Papyri from
Hirbet el-Mird” as cited by Crone-Cook).
Jika inskripsi2 ini berasal dari Quran, dengan berbagai
macam variasi. bagaimana mungkin Quran disahkan
(dikanonisasi) sebelum akhir abad ke 8 ? Orang hanya
bisa menyimpulkan bahwa terjadi sebuah evolusi dalam
penyusunan Quran, KALAU MEMANG MEREKA ASALNYA
DIKUTIP DARI QURAN.
KESIMPULAN SINGKAT :
1. Kaum Yahudi dan Arab bersahabat sampai paling
tidak tahun 640.
2. Yerusalem adalah Holy Sanctuary for Islam
sebenarnya sampai permulaan abad ke 8.
3. Mekah tidak dikenal sebagai kota yang viable
sebelum akhir abad ke 7 dan tidak juga dikenal
sebagai rute perdagangan.
4. Kiblat baru ditetapkan kearah Mekah setelah abad
ke 8.
5. Muhammad tidak dikenal sebagai rasul semua rasul
sebelum akhir abad ke 7.
6. Referensi paling pertama tentang adanya Quran
tidak ada sebelum pertengahan abad ke 8.
7. Tulisan Quran original tidak serupa dengan teks
Quran sekarang. Quran yang kita miliki sekarang
BUKAN Quran yang seharusnya dikumpulkan dan
dikanonisasi kalif Uthman pada tahun 650, seperti
diakui kaum muslimin.
8. Quran yang kita miliki sekarang (sejak tahun 790)
tidak ditulis 16 tahun setelah wafatnya Muhamad,
melainkan 160 tahun kemudian.
─────────────
Bukti Arkeologis Melawan Quran
http://debate.org.uk/
Sampai kiamatpun Muslimin bersikeras bahwa Qur’an
adalah kata2 final Tuhan. Namun, mana bukti
sejarahnya? Bukti manuskrip, dan arkeologis semuanya
tidak berhasil membuktikan claim2. Dlm tulisan paling
akhir (Isa Masih no. 6, p8-9) kami menunjukkan
kekurangan2 dlm manuskrip2 Quran. Disini kami
menunjukkan bukti melawan Islam dari sumber2
dokumen non Muslim dan arkeologi modern.
SUMBER2 YAHUDI
Qur’an menyiratkan bahwa Muhamad memutuskan
hubungannya dgn Yahudi thn 624 AD, segera setelah
Hijrah ke Mekah. Pada saat itu, Kiblat dipindahkan dari
Yerusalem ke Mekah (Surah 2:144, 149-150). Namun,
sumber2 non-Muslim, Doktrin Iacobi dan Kronikel
Armenia dr thn 660 AD, menunjukkan bahwa pd tahun
640, saat penaklukan Palestina, Arab dan Yahudi adalah
sekutu. Muhamad mendirikan masy Ishmaeli dan Yahudi
berdasarkan tanah kelahiran mereka yg sama di tanah
suci. Hubungan baik ini berlangsung sampai paling tidak
15 tahun setelah tgl Quran tsb.
M E K A H
Menurut Qur’an, Mekah merupakan kota yang pertama
dan paling penting di dunia. Adam menempatkan batu
hitan di Ka’bah asli, sementara Abraham dan Ishmael
membangun kembali Ka’bah Mekah berabad2 kemudian
(Sura 2:125-127). Mekah dikatakan sbg pusat
perdagangan sebelum jamannya Muhamad.
Namun tidak ada bukti2 arkeologisnya. Kota kuno besar
macam itu tentulah disebut2 dlm sejarah kuno. Namun,
sebutan paling dini ttg Mekah sbg sebuah kota ada di
Continuato Byzantia Arabica, dokumen abad ke 8 !
Mekah jelas bukan rute perdagangan daratan yg alami –
Mekah adalah lembah gersang dan orang harus belok
sepanjang 100 mil utk dapat mencapainya.Setelah abad
pertama, hanya ada perdagangan maritim Yunani-
Romawi dgn India, yg diawasi pelabuhan Laut Merah
Ethiopia, Adulis, dan bukan oleh Arab. Kalau Mekah
bukan sebuah kota yg mapan, kecuali setleah jamannya
Muhamad, maka ini membuat Quran sangat diragukan.
A R K E O L O G I
Qiblat
Menurut Qur’an, Qiblat diarahkan ke Mekah pd thn 624
AD, 2 tahun setelah Hijrah (Sura 2:144, 149-50). Namun
bukti2 arkeologis paling dini dari mesjid yg dibangun
pada permulaan abad ke 8 menunjukkan bahwa kota
suci mereka bukanlah Mekah, tetapi lebih dekat ke arah
Yerusalem.
Qiblat mesjid pertama di Kufa, Iraq, dibangun th 670 AD,
dan menunjuk ke BARAT ketimbang ke selatan, gambar2
arsitektur dari 2 mesjid Umayyad (650-750 AD) di Iraq,
menunjukkan bahwa Qiblat berorientasi jauh ke utara.
Mesjid Wasit melenceng sampai 33 derajad, mesjid
Baghdad sampai 30 derajad. Mesjid ‘Amr b. al ‘As
didekat Cairo, juga menunjuk ke Kiblat terlalu jauh ke
utara dan harus diperbaiki oleh sang gubernur.
Jacob dari Odessa, penulis dan pelancong Kristen,
merupakan saksi mata menulis ttg Mesir sekitar 705 AD.
Suratnya dlm British Museum menyebut ttg kaum
‘Mahgraye’ (istilah Yunani bagi Arab) di Meesir berdoa
menghadap ke timur, menuju Ka’bah, dgn kata lain
menuju Palestina, dan bukan Mekah.
Jadi bukti menunjuk kpd lokasi bukan di Mekah, tetapi di
Arab Utara atau bahkan Yerusalem, sampai permulaan
abad ke 8. Tidak mungkin Muslim2 pada abad permulaan
Islam salah menghitung arah. Merkea pedagang dari
gurun pasir dan tukang caravan yang mahir membaca
arah bintang di langit utk menentukan arah pelancongan
mereka. Bgm lagi mereka melakukan ibadah haji, yang
pada saat itu saja sudah diresmikan ? Ada
ketidakcocokan besar antara Qur’an dan arkeologi
modern. Yang paling penting, Walid I, kalif th 705 – 715,
menulis kesemua wilayah memerintahkan penghancuran
dan pelebaran semua mesjid. Mungkinkah bahwa saat
itu Kiblat baru dipindahkan ke Mekah ?
Dome Of The Rock
Kemungkinan alasan mengapa mesjid2 kuno menghadap
Palestina bisa ditemukan di Yerusalem.
Di pusat kota itu terletak the ‘Dome of the Rock’,
bangunan yg didirikan ‘Abd al-Malik th 691 AD. Ini
dianggap sbg tempat Islam paling suci nomor 3 setelah
Mekah dan Medinah. Gedung ini nampaknya bukan ingin
digunakan sbg mesjid, karena tidak adanya Qiblat dan
betnuk oktagonalnya menunjukkan gedung itu
digunakan agar orang dapat berkeliling memutarinya.
Muslim percaya bahwa ini memperingati Isra Mi’raj,
malam Muhammad naik ke surga dan berbicara dgn
Allah dan Musa mengenai jumlah solat yg diwajibkan
kpd pengikut.
Namun, tulisan2 pada tembok2 gedung itu tidak
menyebut apa2 ttg Isra Mi’raj tetapi kutipan2 Quran yg
dimaksudkan khususnya bagi Kristen. Mungkin gedung ini
dibangun sbg tempat suci Islam, sebelum Mekah
diresmikan sbg tempat tersuci Islam.
Tradisi Muslim memang menunjukkan bahwa the Dome
of the Rock dulu memang pusat religius Islam. Kalif
Suleyman, yg berkuasa sampai th 717 AD, pergi ke
Mekah utk bertanya ttg ibadah Haji. Ia tidak puas dgn
jawaban yg didapatkan dan emmilih utk mengikuti ‘Abd
al-Malik, yg melancong ke the Dome of the Rock.
Mungkinkah kiblat2 mesjid2 pertama dulu diarahkan
kepada the Dome of the Rock dibawah perintah Walid I
pada permulaan abad ke 8?
Alm Yehuda Nevo dari Universitas Yerusalem men-survey
ukiran2 Arab pada batu2 yg tersebar di gurun Negev dan
Syro-Jordania. Risetnya memberikan gambaran berguna
atas sejarah Muhammad dari sumber2 non-Muslim
kontemporer.
Dlm teks religius dari jaman Sufyani (661-684 AD) ada
sebuah kepercayaan monotheistic TETAPI TIDAK ADA
RUJUKAN KPD MUHAMAD ! Namanya hanya muncul
setelah 690 AD. Tulisan Muhammad Rasulullah tampil
pertama kali dlm uang keping Arab-Sassania dari th 690
AD, di Damascus. Lebih penting lagi, ketiga unsure
kepercayaan kpd Tauhid, Muhamad Rasulullah dan rasul
Allah wa-’abduhu (sifat kemanusiaan Yesus) ditemukan
dlm tulisan ‘Abd al-Malik dlm the Dome of the Rock,
tertgl 691 AD. Sebelum ini, prinsip2 kepercayaan Muslim
tidak dapat dipastikan.
Jadi selama 60 tahun penuh setelah kematian Muhamad,
kalimat syahadat Arab TIDAK MENCAKUP MUHAMAD.
Tetapi sebuah prinsip kepercayaan monotheis yg
megnembangkan konsep2 Judaeo-Kristen dlm gaya
literature khusus. Saat syahadat dgn nama Muhammad
diberlakukan selama periode Marwanid (setelah 684 AD)
tiba2 bentuk deklarasi itulah tampil sbg satu2nya bentuk
dlm dokumen2 formal. Jadi peningkatan status
Muhammad sbg nai universal hanya terjadi pada akhir
abad ke 7, lama setelah kematiannya.
Q U R A N
Jelas Qur’an mengalami transformasi selama 100 tahun
setelah kematiannya. Tulisan2 yg dikenal sbg tulisan
Quran pada keping2 dan di the Dome of the Rock
selama masa ‘Abd al-Malik dari 685 AD, BERBEDA dgn
teks Quran sekarang. Qur’an tidak mungkin dikanonisasi
selama masa hidup Muhamad, tetapi pasti mengalami
proses evolusi. Rujukan paling dini kpd sebuah buku yg
dinamakan Qur’an tidak datang dari Mekah melainkan di
Arab Utara, bahkan Yerusalem, pada permulaan abad 8.
Tidak mungkin Muslim2 pertama salah tebak arah
Mekah, mereka mahir menggunakan bintang sbg
penunjuk jalan. Bagaimana mungkin mereka bisa
mengadakan ibadah haji yg sudah dikanonisasikan pada
jaman itu ?
Ada kepincangan besar antara Qur’an dan arkeologi
modern.
Dimasa lalu Qur’an dilindungi dgn semacam embargo –
tetapi kini Muslim tidak lagi dapat menghindar bukti2 yg
semakin menumpuk yg justru melemahkan Quran.

One response to “Mengungkap rahasia quran

  1. “alloh telah menjamin keaslian alquran,.mskpun awalnya trpisah namun saya sudah yakin bahwa kmudian trkumpul kmbali…nbi muhammad juga brwasiat,”aku tnggalkan dua wasiat(alquran dan hadist) siapa yg brpegang kpdanya akan slamat,..tdak smua mnusia wjib mengetahui smua kandungan alquran,ckup apa yg sudah mngantarnya kpada keimanan,.krena dlam alquran bnyak ayat yg lbih baik dketahui orang yg khossuh(khusus)artinya imannya sudah tebal,dan baik d ketahui orang ‘ammah(umum),.krena dlam ayat alquran ad yg seolah brtentangan,tpi smua benar…ibarat teori elektromagnetik newton dan relatifitas umum einstin,smua benar namun harus sesuai tmpatnya,…saya lbih prcya alquran dan hadist,dan smua yg terjadi adalah kehendak dan keputusan alloh,dan hanya dia yg maha benar,.jika alloh sudah meggerakkan hati manusia untuk brdagang kemekah apa yg bisa dilakukan,krena nbi ibrhim juga brdoa agar tanah yg gersang ini(mekah)untuk dicukupi mkanan dan buah2an,smpai sekarang mekah tetap dipenuhi mkanan dan buah2an..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s