Sejarah quran versi seorang muslim

Merenungkan Sejarah Alquran
Oleh Luthfi Assyaukanie
Pengkajian sejarah Alquran bukan hanya
dimaksudkan untuk mengungkap dimensi-dimensi
tersembunyi yang selama ini tak terpikirkan oleh
umat Islam, tapi juga merupakan modal intelektual
untuk memahami kitab suci yang hingga hari ini
terus menjadi sumber inspirasi hukum dan moral
kaum Muslim. Saya ingin berangkat dari sebuah
pijakan bahwa kajian ilmiah tidaklah merusak
akidah. Kajian ilmiah juga tidak bertentangan
dengan semangat dasar Islam yang mendukung
kebenaran dan menjunjung tinggi kebebasan.
Bulan Ramadhan adalah bulan Alquran dan sekaligus
merupakan bulan puji-pujian terhadap kitab suci ini.
Tanggal 17 Ramadhan dianggap sebagai puncak dari
ritual pengagung-agungan terhadap Alquran, karena
pada tanggal inilah Alquran diyakini diturunkan oleh
Allah kepada Nabi Muhammad. Di bulan yang suci ini,
saya ingin merenungkan sejarah Alquran yang
panjang, yang berproses, yang berjuang dengan
berbagai tantangan zaman, hingga menjadi wujud
dalam bentuknya yang kita kenal sekarang.
Pengkajian sejarah Alquran bukan hanya
dimaksudkan untuk mengungkap dimensi-dimensi
tersembunyi yang selama ini tak terpikirkan oleh
umat Islam, tapi juga merupakan modal intelektual
untuk memahami kitab suci yang hingga hari ini terus
menjadi sumber inspirasi hukum dan moral kaum
Muslim. Saya ingin berangkat dari sebuah pijakan
bahwa kajian ilmiah tidaklah merusak akidah. Kajian
ilmiah juga tidak bertentangan dengan semangat
dasar Islam yang mendukung kebenaran dan
menjunjung tinggi kebebasan.
* * *
Sebagian besar kaum Muslim meyakini bahwa
Alquran dari halaman pertama hingga terakhir
merupakan kata-kata Allah yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad secara verbatim, baik kata-katanya
(lafdhan) maupun maknanya (ma’nan). Kaum Muslim
juga meyakini bahwa Alquran yang mereka lihat dan
baca hari ini adalah persis seperti yang ada pada
masa Nabi lebih dari seribu empat ratus tahun silam.
Keyakinan semacam itu sesungguhnya lebih
merupakan formulasi dan angan-angan teologis (al-
khayal al-dini) yang dibuat oleh para ulama sebagai
bagian dari formalisasi doktrin-doktrin Islam. Hakikat
dan sejarah penulisan Alquran sendiri sesungguhnya
penuh dengan berbagai nuansa yang delicate (rumit),
dan tidak sunyi dari perdebatan, pertentangan, intrik,
dan rekayasa.
Alquran dalam bentuknya yang kita kenal sekarang
sebetulnya adalah sebuah inovasi yang usianya tak
lebih dari 79 tahun. Usia ini didasarkan pada upaya
pertama kali kitab suci ini dicetak dengan percetakan
modern dan menggunakan standar Edisi Mesir pada
tahun 1924. Sebelum itu, Alquran ditulis dalam
beragam bentuk tulisan tangan (rasm) dengan teknik
penandaan bacaan (diacritical marks) dan otografi
yang bervariasi.
Hadirnya mesin cetak dan teknik penandaan bukan
saja membuat Alquran menjadi lebih mudah dibaca
dan dipelajari, tapi juga telah membakukan beragam
versi Alquran yang sebelumnya beredar menjadi satu
standar bacaan resmi seperti yang kita kenal
sekarang.
Pencetakan Edisi Mesir itu bukanlah yang pertamakali
dalam upaya standarisasi versi-versi Alquran.
Sebelumnya, para khalifah dan penguasa Muslim juga
turun-tangan melakukan hal yang sama, kerap
didorong oleh keinginan untuk menyelesaikan konflik-
konflik bacaan yang muncul akibat beragamanya
versi Alquran yang beredar.
Tapi pencetakan tahun 1924 itu adalah ikhtiyar yang
luar biasa, karena upaya ini merupakan yang paling
berhasil dalam sejarah kodifikasi dan pembakuan
Alquran sepanjang masa. Terbukti kemudian, Alquran
Edisi Mesir itu merupakan versi Alquran yang paling
banyak beredar dan digunakan oleh kaum Muslim.
Keberhasilan penyebarluasan Alquran Edisi Mesir tak
terlepas dari unsur kekuasaan. Seperti juga pada
masa-masa sebelumnya, kodifikasi dan standarisasi
Alquran adalah karya institusi yang didukung oleh—
dan menjadi bagian dari proyek—penguasa politik.
Alasannya sederhana, sebagai proyek amal (non-
profit), publikasi dan penyebaran Alquran tak akan
efektif jika tidak didukung oleh lembaga yang
memiliki dana yang besar.
Apa yang telah dilakukan oleh pemerintah Saudi
Arabia mencetak ratusan ribu kopi Alquran sejak
tahun 1970-an merupakan bagian dari proyek amal
yang sekaligus juga merupakan upaya penyuksesan
standarisasi kitab suci. Kendati tidak seperti Uthman
bin Affan yang secara terang-terangan
memerintahkan membakar seluruh versi (mushaf)
Alquran yang bukan miliknya (kendati tidak benar-
benar berhasil), tindakan penguasa Saudi membanjiri
pasar Alquran hanya dengan satu edisi, menutupi dan
perlahan-lahan menyisihkan edisi lain yang diam-diam
masih beredar (khususnya di wilayah Maroko dan
sekitarnya).
Agaknya, tak lama lagi, di dunia ini hanya ada satu
versi Alquran, yakni versi yang kita kenal sekarang ini.
Dan jika ini benar-benar terwujud (entah kapan),
maka itulah pertama kali kaum Muslim (baru) boleh
mendeklarasikan bahwa mereka memiliki satu
Alquran yang utuh dan seragam.
Edisi Mesir adalah salah satu dari ratusan versi bacaan
Alquran (qiraat) yang beredar sepanjang sejarah
perkembangan kitab suci ini. Edisi itu sendiri
merupakan satu versi dari tiga versi bacaan yang
bertahan hingga zaman modern. Yakni masing-
masing, versi Warsh dari Nafi yang banyak beredar di
Madinah, versi Hafs dari Asim yang banyak beredar di
Kufah, dan versi al-Duri dari Abu Amr yang banyak
beredar di Basrah. Edisi Mesir adalah edisi yang
menggunakan versi Hafs dari Asim.
Versi bacaan (qiraat) adalah satu jenis pembacaan
Alquran. Versi ini muncul pada awal-awal sejarah
Islam (abad pertama hingga ketiga) akibat dari
beragamnya cara membaca dan memahami mushaf
yang beredar pada masa itu. Mushaf adalah istilah lain
dari Alquran, yakni himpunan atau kumpulan ayat-
ayat Allah yang ditulis dan dibukukan.
Sebelum Uthman bin Affan (w. 35 H), khalifah ketiga,
memerintahkan satu standarisasi Alquran yang
kemudian dikenal dengan “Mushaf Uthmani,” pada
masa itu telah beredar puluhan—kalau bukan ratusan
—mushaf yang dinisbatkan kepada para sahabat Nabi.
Beberapa sahabat Nabi memiliki mushafnya sendiri-
sendiri yang berbeda satu sama lain, baik dalam hal
bacaan, susunan ayat dan surah, maupun jumlah ayat
dan surah.
Ibn Mas’ud, seorang sahabat dekat Nabi, misalnya,
memiliki mushaf Alquran yang tidak menyertakan
surah al-Fatihah (surah pertama). Bahkan menurut Ibn
Nadiem (w. 380 H), pengarang kitab al-Fihrist, mushaf
Ibn Mas’ud tidak menyertakan surah 113 dan 114.
Susunan surahnyapun berbeda dari Alquran yang ada
sekarang. Misalnya, surah keenam bukanlah surah al-
An’am, tapi surah Yunus.
Ibn Mas’ud bukanlah seorang diri yang tidak
menyertakan al-Fatihah sebagai bagian dari Alqur’an.
Sahabat lain yang menganggap surah “penting” itu
bukan bagian dari Alquran adalah Ali bin Abi Thalib
yang juga tidak memasukkan surah 13, 34, 66, dan
96. Hal ini memancing perdebatan di kalangan para
ulama apakah al-Fatihah merupakan bagian dari
Alquran atau ia hanya merupakan “kata pengantar”
saja yang esensinya bukanlah bagian dari kitab suci.
Salah seorang ulama besar yang menganggap al-
Fatihah bukan sebagai bagian dari Alquran adalah Abu
Bakr al-Asamm (w. 313 H). Dia dan ulama lainnya
yang mendukung pandangan ini berargumen bahwa
al-Fatihah hanyalah “ungkapan liturgis” untuk memulai
bacaan Alqur’an. Ini merupakan tradisi populer
masyarakat Mediterania pada masa awal-awal Islam.
Sebuah hadis Nabi mendukung fakta ini: “siapa saja
yang tidak memulai sesuatu dengan bacaan
alhamdulillah [dalam hadis lain bismillah] maka
pekerjaannya menjadi sia-sia.”
Perbedaan antara mushaf Uthman dengan mushaf-
mushaf lainnya bisa dilihat dari komplain Aisyah, isteri
Nabi, yang dikutip oleh Jalaluddin al-Suyuthi dalam
kitabnya, al-Itqan, dalam kata-kata berikut: “pada
masa Nabi, surah al-Ahzab berjumlah 200 ayat.
Setelah Uthman melakukan kodifikasi, jumlahnya
menjadi seperti sekarang [yakni 73 ayat].” Pandangan
Aisyah juga didukung oleh Ubay bin Ka’b, sahabat
Nabi yang lain, yang di dalam mushafnya ada dua
surah yang tak dijumpai dalam mushaf Uthman, yakni
surah al-Khal’ dan al-Hafd.
Setelah Uthman melakukan kodifikasi dan
standarisasi, ia memerintahkan agar seluruh mushaf
kecuali mushafnya (Mushaf Uthmani) dibakar dan
dimusnahkan. Sebagian besar mushaf yang ada
memang berhasil dimusnahkan, tapi sebagian lainnya
selamat. Salah satunya, seperti kerap dirujuk buku-
buku ‘ulum al-Qur’an, adalah mushaf Hafsah, salah
seorang isteri Nabi, yang baru dimusnahkan pada
masa pemerintahan Marwan ibn Hakam (w. 65 H)
beberapa puluh tahun kemudian.
Sebetulnya, kendati mushaf-mushaf para sahabat itu
secara fisik dibakar dan dimusnahkan, keberadaannya
tidak bisa dimusnahkan dari memori mereka atau
para pengikut mereka, karena Alquran pada saat itu
lebih banyak dihafal ketimbang dibaca. Inilah yang
menjelaskan maraknya versi bacaan yang beredar
pasca-kodifikasi Uthman. Buku-buku tentang varian-
varian bacaan (kitab al-masahif) yang muncul pada
awal-awal abad kedua dan ketiga hijriah, adalah
bukti tak terbantahkan dari masih beredarnya
mushaf-mushaf klasik itu. Dari karya mereka inilah,
mushaf-mushaf sahabat yang sudah dimusnahkan
hidup kembali dalam bentuk fisik (teks tertulis).
Sejarah penulisan Alqur’an mencatat nama-nama Ibn
Amir (w. 118 H), al-Kisai (w. 189 H), al-Baghdadi (w.
207 H); Ibn Hisyam (w. 229 H), Abi Hatim (w. 248 H),
al-Asfahani (w. 253 H) dan Ibn Abi Daud (w. 316 H)
sebagai pengarang-pengarang yang menghidupkan
mushaf-mushaf klasik dalam karya masahif mereka
(umumnya diberijudul kitab al-masahif atau ikhtilaf al-
masahif). Ibn Abi Daud berhasil mengumpulkan 10
mushaf sahabat Nabi dan 11 mushaf para pengikut
(tabi’in) sahabat Nabi.
Munculnya kembali mushaf-mushaf itu juga didorong
oleh kenyataan bahwa mushaf Uthman yang
disebarluaskan ke berbagai kota Islam tidak
sepenuhnya lengkap dengan tanda baca, sehingga
bagi orang yang tidak pernah mendengar bunyi
sebuah kata dalam Alquran, dia harus merujuk
kepada otoritas yang bisa melafalkannya. Dan tidak
sedikit dari pemegang otoritas itu adalah para pewaris
varian bacaan non-Uthmani.
Otoritas bacaan bukanlah satu-satunya sumber yang
menyebabkan banyaknya varian bacaan. Jika otoritas
tidak dijumpai, kaum Muslim pada saat itu umumnya
melakukan pilihan sendiri berdasarkan kaedah bahasa
dan kecenderungan pemahamannya terhadap makna
sebuah teks. Dari sinilah kemudian muncul beragam
bacaan yang berbeda akibat absennya titik dan
harakat (scripta defectiva). Misalnya bentuk present
(mudhari’) dari kata a-l-m bisa dibaca yu’allimu,
tu’allimu, atau nu’allimu atau juga menjadi na’lamu,
ta’lamu atau bi’ilmi.
Yang lebih musykil adalah perbedaan kosakata akibat
pemahaman makna, dan bukan hanya persoalan
absennya titik dan harakat. Misalnya, mushaf Ibn
Mas’ud berulangkali menggunakan kata “arsyidna”
ketimbang “ihdina” (keduanya berarti “tunjuki kami”)
yang biasa didapati dalam mushaf Uthmani. Begitu
juga, “man” sebagai ganti “alladhi” (keduanya berarti
“siapa”). Daftar ini bisa diperpanjang dengan kata dan
arti yang berbeda, seperti “al-talaq” menjadi “al-
sarah” (Ibn Abbas), “fas’au” menjadi “famdhu” (Ibn
Mas’ud), “linuhyiya”menjadi “linunsyira”(Talhah), dan
sebagainya.
Untuk mengatasi varian-varian bacaan yang semakin
liar, pada tahun 322 H, Khalifah Abbasiyah lewat dua
orang menterinya Ibn Isa dan Ibn Muqlah,
memerintahkan Ibn Mujahid (w. 324 H) melakukan
penertiban. Setelah membanding-bandingkan semua
mushaf yang ada di tangannya, Ibn Mujahid memilih
tujuh varian bacaan dari para qurra ternama, yakni
Nafi (Madinah), Ibn Kathir (Mekah), Ibn Amir (Syam),
Abu Amr (Bashrah), Asim, Hamzah, dan Kisai
(ketiganya dari Kufah). Tindakannya ini berdasarkan
hadis Nabi yang mengatakan bahwa “Alquran
diturunkan dalam tujuh huruf.”
Tapi, sebagian ulama menolak pilihan Ibn Mujahid dan
menganggapnya telah semena-mena
mengesampingkan varian-varian lain yang dianggap
lebih sahih. Nuansa politik dan persaingan antara
ulama pada saat itu memang sangat kental. Ini
tercermin seperti dalam kasus Ibn Miqsam dan Ibn
Shanabudh yang pandangan-pandangannya
dikesampingkan Ibn Mujahid karena adanya rivalitas
di antara mereka, khususnya antara Ibn Mujahid dan
Ibn Shanabudh.
Bagaimanapun, reaksi ulama tidak banyak punya
pengaruh. Sejarah membuktikan pandangan Ibn
Mujahid yang didukung penguasa itulah yang kini
diterima orang banyak (atau dengan sedikit modifikasi
menjadi 10 atau 14 varian). Alquran yang ada di
tangan kita sekarang adalah salah satu varian dari
apa yang dipilihkan oleh Mujahid lewat tangan
kekuasaan. Yakni varian bacaan Asim lewat Hafs.
Sementara itu, varian-varian lain, tak tentu nasibnya.
Jika beruntung, ia dapat dijumpai dalam buku-buku
studi Alquran yang sirkulasi dan pengaruhnya sangat
terbatas.
***
Apa yang bisa dipetik dari perkembangan sejarah
Alquran yang saya paparkan secara singkat di atas?
Para ulama, khususnya yang konservatif, merasa
khawatir jika fakta sejarah semacam itu dibiarkan
diketahui secara bebas. Mereka bahkan berusaha
menutup-nutupi dan mengaburkan sejarah, atau
dengan memberikan apologi-apologi yang sebetulnya
tidak menyelesaikan masalah, tapi justru membuat
permasalahan baru.
Misalnya, dengan menafsirkan hadis Nabi “Alquran
diturunkan dalam tujuh huruf” dengan cara
menafsirkan “huruf” sebagai bahasa, dialek, bacaan,
prononsiasi, dan seterusnya yang ujung-ujungnya
tidak menjelaskan apa-apa. Saya sependapat dengan
beberapa sarjana Muslim modern yang mengatakan
bahwa kemungkinan besar hadis itu adalah rekayasa
para ulama belakangan untuk menjelaskan rumitnya
varian-varian dalam Alquran yang beredar. Tapi, alih-
alih menjelaskan, ia malah justru mengaburkan.
Mengaburkan karena jumlah huruf (bahasa, dialek,
bacaan, prononsiasi), lebih dari tujuh. Kalau dikatakan
bahwa angka tujuh hanyalah simbol saja untuk
menunjukkan “banyak,” ini lebih parah lagi, karena
menyangkut kredibilitas Tuhan dalam menyampaikan
ayat-ayatnya.
Apakah kita mau mengatakan bahwa setiap varian
bacaan, baik yang berbeda kosakata dan pengucapan
(akibat dari jenis penulisan dan tatabahasa)
merupakan kata-kata Tuhan secara verbatim (apa
adanya)? Jika tidak terkesan rewel dan simplistis,
pandangan ini jelas tak bertanggungjawab, karena ia
mengabaikan fakta kaum Muslim pada awal-awal
sejarah Islam yang sangat dinamis.
Lalu, bagaimana dengan keyakinan bahwa Alquran
dari surah al-Fatihah hingga al-Nas adalah kalamullah
(kata-kata Allah) yang diturunkan kepada Nabi baik
kata dan maknanya (lafdhan wa ma’nan)? Seperti
saya katakan di atas, keyakinan semacam ini
hanyalah formula teologis yang diciptakan oleh para
ulama belakangan. Ia merupakan bagian dari proses
panjang pembentukan ortodoksi Islam.
Saya cenderung meyakini bahwa Alquran pada
dasarnya adalah kalamullah yang diwahyukan
kepada Nabi tapi kemudian mengalami berbagai
proses “copy-editing” oleh para sahabat, tabi’in, ahli
bacaan, qurra, otografi, mesin cetak, dan kekuasaan.
Proses-proses ini pada dasarnya adalah manusiawi
belaka dan merupakan bagian dari ikhtiyar kaum
Muslim untuk menyikapi khazanah spiritual yang
mereka miliki.
Saya kira, varian-varian dan perbedaan bacaan yang
sangat marak pada masa-masa awal Islam lebih
tepat dimaknai sebagai upaya kaum Muslim untuk
membebaskan makna dari kungkungan kata,
ketimbang mengatribusikannya secara simplistis
kepada Tuhan. Seperti dikatakan seorang filsuf
kontemporer Perancis, teks—dan apalagi teks-teks
suci—selalu bersifat “repressive, violent, and
authoritarian.” Satu-satunya cara menyelamatkannya
adalah dengan membebaskannya.
Generasi awal-awal Islam telah melakukan
pembebasan itu, dengan menciptakan varian-varian
bacaan yang sangat kreatif. Jika ada pelajaran yang
bisa diambil dari sejarah pembentukan Alquran, saya
kira, semangat pembebasan terhadap teks itulah yang
patut ditiru, tentu saja dengan melakukan kreatifitas-
kreatifitas baru dalam bentuk yang lain.
Luthfi Assyaukanie. Dosen Sejarah Pemikiran Islam di
Universitas Paramadina, Jakarta, dan Editor Jaringan
Islam Liberal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s