AWLOH TA’ALLA KOK SUMPAH KAYA PERNAH BOHONG AJA

: Pengertian Sumpah dalam Al-Qur’an
:
:Kata ‘sumpah’(terjemahan bhs Indonesia)
berasal dari kata Arab ‘qasam’ yang akar
katanya disusun oleh huruf ‘qaf-sin-mim’, kata
ini menurunkan beberapa pengertian : to
divide, dispose, separate, apportion, distribute..
:
:http://www.studyquran.org/LaneLexicon/
Volume8/00000242.pdf
:
:Kata ‘qasam’ diartikan ‘bersumpah’ misalnya
terdapat pada ayat :
:
:falaa uqsimu bimawaaqi’i alnnujuumi
:[56:75] Maka Aku bersumpah dengan masa
turunnya bagian-bagian Al-Quraan.
:falaa uqsimu bialsysyafaqi
:[84:16] Maka sesungguhnya Aku bersumpah
dengan cahaya merah di waktu senja,
:
:laa uqsimu bihaadzaa albaladi
:[90:1] Aku benar-benar bersumpah dengan
kota ini (Mekah),
:
:Namun kata ‘qasam’ dengan derivasinya juga
diartikan membagi, memisahkan, misalnya
terdapat pada ayat :
:
:wa-idzaa hadhara alqismata uluu alqurbaa
waalyataamaa waalmasaakiinu faurzuquuhum
minhu waquuluu lahum qawlan ma’ruufaan
:[4:8] Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir
kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka
berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan
ucapkanlah kepada mereka perkataan yang
baik.
:Faalmuqassimaati amraan
:[51:4] dan (malaikat-malaikat) yang membagi-
bagi urusan
:
:tilka idzan qismatun dhiizaa
:[53:22] Yang demikian itu tentulah suatu
pembagian yang tidak adil.
:
:Muncul pertanyaan :”Lalu apa hubungannya
bersumpah dengan membagi atau
memisahkan..??”, apa sebenarnya arti
bersumpah ketika ada kalimat ‘Tuhan
bersumpah demi makhluk’..?? bagaimana
sebenarnya posisi makhluk tersebut dalam
sumpah tersebut..?? apakah benar posisinya
sebagai pihak yang berkuasa untuk
menghakimi pihak yang bersumpah..??
bagaimana halnya ketika Allah bersumpah
demi diri-Nya sendiri..??
:
:Kata ‘qasam’ sendiri dalam bahasa Arab setara
dengan istilah lain :
:
:Dalam bahasa Arab sumpah disebut dengan
al-aimanu, al-halfu, al-qasamu. Al-aimanu jama’
dari kata al-yamiinu (tangan kanan) karena
orang Arab di zaman Jahiliyah apabila
bersumpah satu sama lain saling berpegangan
tangan kanan. Kata al-yamiinu secara
etimologis dikaitakan dengan tangan kanan
yang bisa berarti al-quwwah (kekuatan), dan
al-qasam (sumpah). Dengan demikian
pengertian al-yuamiinu merupakan perpaduan
dari tiga makna tersebut yang selanjutnya
digunakan untuk bersumpah. Dikaitkan dengan
kekuatan (al-quwwah), karena orang yang
ingin mengatakan atau menyatakan sesuatu
dikukuhkan dengan sumpah sehingga
pernyataannya lebih kuat sebagaimana tangan
kanan lebih kuat dari tangan kiri.
:
:http://bs-ba.facebook.com/topic.php?
uid=53744579012&topic=7485
:
:sehingga selain arti kata : membagi atau
memisahkan, ‘bersumpah’ juga mengandung
unsur : menguatkan, mengukuhkan.
:
:Yang perlu diperjelas disini adalah, ketika Allah
bersumpah dengan nama makhluk-Nya, maka
tidak ada suatu kesan yang muncul dari umat
Islam, bahwa Allah telah ‘menyerahkan
kekuasaan untuk menghakimi’ sumpah-Nya
tersebut kepada benda tersebut. Baik didasar
sumpah ataupun tidak, ataupun sumpah
tersebut dilontarkan oleh siapapun, maka pihak
yang berkuasa untuk menghakimi hanyalah
Allah. Kalau begitu bagaimanakah sebenarnya
‘status’ makhluk/benda yang terdapat dalam
sumpah itu..?? maka posisi makhluk/benda
tersebut adalah sebagai SAKSI atas sumpah
tersebut, saksi yang dikesankan independen,
berdiri sendiri dan terpisah dari pihak yang
bersumpah, berfungsi untuk menguatkan dan
mengukuhkan bahwa apa yang disampaikan
dalam sumpah tersebut benar adanya. Ini
terkait dengan tujuan suatu sumpah
dilontarkan, yaitu untuk meyakinkan pihak lain
atas kebenaran apa yang disumpahkan,
dimana pihak lain tersebut ragu-ragu atau
tidak percaya. Kesan terpisah ini sejalan
dengan tujuan disampaikannya sumpah,
sehingga seolah-olah Allah
mengatakan ;”Sekalipun Aku adalah Tuhan
Yang Maha Berkuasa, namun makhluk/benda
yang Aku jadikan objek sumpah-Ku,
dipersilahkan memutuskan sendiri
kesaksiannya. Apabila Aku telah berbohong
atau sumpah-Ku tidak benar, maka Aku sendiri
yang akan menghakimi diri-Ku..”.
:
:Pengertian ‘qasam’ ini juga berlaku dalam hal
Tuhan bersumpah atas diri-Nya sendiri.
Pemisahan diibaratkan ‘posisi’ Tuhan sebagai
pihak yang bersumpah dan sebagai pihak yang
bersaksi merupakan dua hal yang seolah-olah
terpisah, sehingga kesaksian Tuhan adalah adli,
kuat dan benar. Ini memenuhi tujuan untuk
apa sumpah tersebut dilontarkan, yaitu untuk
meyakinkan pihak lain yang tidak percaya dan
ragu-ragu. Disinilah kesetaraan antara istilah
‘qasam’ dan ‘aimanu’, yaitu kemandirian
sebagai saksi menunjang pengukuhan dan
penguatan sumpah yang disampaikan.
:
:Berdasarkan penjelasan ini, pertanyaan dari
pihak Kristen sudah bisa dijelaskan, apa yang
mereka gugat tentang sumpah Allah yang
terdapat dalam Al-Qur’an karena mereka
memakai ukuran sendiri tentang apa yang
dimaksud dengan sumpah dan subjek sumpah,
mengartikan bahwa makhluk/n]benda yang
terdapat dalam sumpah adalah sebagai pihak
yang berkuasa untuk menghakimi, dan bukan
sebagai saksi yang akan memberikan
kesaksian terhadap kebenaran sumpah
tersebut. Dalam istilah Islam, terlihat bahwa
posisinya bukanlah demikian, karena yang
berkuasa untuk menghakimi tetap saja ada
ditangan Allah, makhluk/benda berfungsi
sebagai saksi..
:
:Sekarang muncul pertanyaan : lalu apakah
seorang Muslim bisa bersumpah juga demi/
dengan nama makhluk selain Allah..?? Terus-
terang saya sama sekali tidak menemukan
adanya larangan dalam Al-Qur’an tentang ini.
Larangan bersumpah demi/dengan/atas mana
selain Allah terdapat dalam hadist :
:
:Umar bin Khaththab mendengar seorang laki-
laki mengatakan,”Demi Ka’bah” maka ia
mengatakan, “Janganlah bersumpah dengan
selain Allah, sesungguhnya aku mendengar
rasulullah saw bersabda, ‘barangsiapa
bersumpah dengan selain Allah, maka ia telah
kufur atau syirik’” (HR Abu dawud, at-Tirmidzi
dan Ahmad)
:
:Dari Umar bin Khaththab, ia berkata; Rasulullah
saw bersabda, “Sesungguhnya Allah melarang
kalian bersumpah dengan nenek moyang
kalian” (HR Muslim)
:
:Dan hadits Abu Hurairah r.a., bahwasanya
Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang
berkata dalam sumpahnya, Demi Latta dan
Uzza hendaklah ia menebusnya dengan
mengucapkan, ‘Laa Ilaaha Illallaah’.”
:
:Namun ternyata dalam riwayat yang lain,
diungkapkan juga bahwa Rasulullah pernah
bersumpah demi makhluk selain Allah :
:
:sabda Nabi kepada seorang Arab Badui, “Demi
ayahnya, beruntunglah ia jika benar katanya.
Demi ayahnya, niscaya ia masuk Jannah jika
benar katanya.” (HR Bukhari dan Muslim)
:
:Dan jawaban beliau kepada orang yang
bertanya tentang shadaqah, “Demi ayahmu,
engkau akan diberitahu tentang hal itu.” (HR
Bukhari dan Muslim)
:
:Dari sini sebenarnya bisa kita simpulkan
bahwa yang dimaksud larangan bersumpah
demi nama selain Allah adalah dalam konteks :
menjadikan sesuatu selain Allah tersebut
sebagai pihak yang berkuasa untuk
menghakimi sumpah kita, makanya dalam
hadist tersebut dikatakan sebagai syirik,
apalagi disampaikan contoh bahwa nama lain
selain Allah tersebut adalah Latta dan Uzza,
berhala yang sebelumnya disembah oleh kaum
musyrik Makkah.
:
:Namun tentu kita harus mensikapinya dengan
cara ‘mengambil jalan yang paling aman’,
daripada menjadikan makhluk/benda sebagai
saksi sumpah kita, akan lebih baik kalau Allah-
lah yang kita jadikan saksi, sekaligus pihak
yang berkuasa menghakimi sumpah kita.
Selain itu jalan yang paling aman, juga
terkesan kita sungguh-sungguh melakukan
sumpah agar pihak lain yang tidak percaya
menjadi yakin dengannya, siapa lagi pihak
yang kesaksiannya kuat dan bisa dipercaya
melebihi Allah..?? bukankah memang itu tujuan
seseorang melakukan sumpah..??

:

:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s